Mindful Communication: Merajut Harmoni di Ruang Maya
Namun, maraknya fenomena phubbing, gossiping, bullying dan hate speech menjadi tanda ada yang perlu dibenahi dalam cara kita berkomunikasi.
Mendengarkan dengan telinga hati.
Tema ini dipilih oleh Paus Fransiskus untuk hari komunikasi sosial sedunia ke-56 yang diperingati pada 29 Mei 2022.
Karena faktanya, kita kehilangan kemampuan untuk mendengarkan orang-orang di sekitar kita.
Mungkin kita bersikap mendengar tetapi tidak benar-benar mendengarkan (hear but not listen).
Seringkali yang terjadi justru sebaliknya, menguping, memata-matai alias kepo, mengeksploitasi orang lain untuk kepentingan diri sendiri.
Godaan ini selalu ada dan menjadi lebih akut di era jejaring sosial, jelas Paus Fransiskus.
Bila diulas dari teori komunikasi antarpribadi, mendengarkan dengan telinga hati dimaknai sebagai mindful listening yang merupakan bagian penting dari mindful communication.
Mindful communication merupakan karakter yang menitikberatkan pada perilaku komunikasi yang maksimum dalam simpati serta empati namun minim iritasi(Wahyuningtyas dkk., 2015).
Seringnya informasi yang overload di linimasa serta kebiasaan-kebiasaan multitasking menyebabkan komunikasi kita menjadi mindless.
Kita sering berbicara sambil lalu, sambil melihat gawai. Atau karena tuntutan tugas, kita sering menghadiri beberapa acara daring sekaligus.Yang artinya kita tidak benar-benar hadir untuk mendengarkan orang lain.
Komunikasi menjadi mindless dapat pula disebabkan oleh hambatan internal berupa stereotipe dan prasangka.
Stereotipe merupakan konsep kaku yang diterapkan pada semua anggota suatu kelompok tanpa mempertimbangkan keragaman individu (Atkinson, Morten & Sue dalam Samovar, 2010).
Sedangkan prasangka merupakan perasaan negatif yang dalam terhadap kelompok tertentu. Sentimen ini meliputi kemarahan, ketakutan, kebencian, dan kecemasan.
Agar dapat berkomunikasi secara mindful, Langer (dalam Gudykunst & Kim, 1997) mengklasifikasikan tiga karakteristik dari kesadaran penuh, yaitu membuat kategori-kategori baru (creating new categories), terbuka terhadap informasi baru (being open to new information), dan menyadari akan adanya beragam perspektif (being aware of more than one perspective).
Merajut harmoni di ruang maya dapat tercipta jika setiap kita mendengarkan dengan telinga hati,melatih mindful communication dan menerima keberagaman sebagai sebuah realitas sosial tanpa perlu diperdebatkan. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Mindful-Communication-Merajut-Harmoni-di-Ruang-Maya.jpg)