Mindful Communication: Merajut Harmoni di Ruang Maya

Namun, maraknya fenomena phubbing, gossiping, bullying dan hate speech menjadi tanda ada yang perlu dibenahi dalam cara kita berkomunikasi.

Editor: Hari Susmayanti
Istimewa
Dosen Sekolah Tinggi Multi Media ”MMTC” Yogyakarta Yolanda Presiana Desi 

Oleh Yolanda Presiana Desi

Dosen Sekolah Tinggi Multi Media ”MMTC” Yogyakarta

Tak dipungkiri, banyak kisah sukses dan bahagia karena teknologi digital.

Namun, maraknya fenomena phubbing, gossiping, bullying dan hate speech menjadi tanda ada yang perlu dibenahi dalam cara kita berkomunikasi.

Dunia digital dengan segala hiruk pikuknya sangat membius kita.

Data dari We are Social Februari 2022 menunjukkan 8 jam 36 menit waktu kita setiap harinya digunakan untuk berselancar di internet.

Adaptasi saat pandemi memperkuat kebiasaan itu. Aktivitas browsing, chatting, gaming, scrolling dan meeting semakin melekat di keseharian kita.

Bisa jadi, kita makin larut dalam informasi dan konten yang penuh distraksi tanpa kita sadari.

Jika menjadi warga negara Indonesia saja berarti kita hidup bersama 268 juta jiwa dengan 716 bahasa daerah (Kemendikbud, 2020), maka bayangkan saat kita menjadi warganet global bersama dengan 7,91 miliar orang dari penjuru dunia dengan berbagai budayanya (Hootsuite dan We are Social, 2022).

Kondisi multikultural dalam masyarakat dunia maya saat ini adalah sebuah keniscayaan.

Halaman
123
Sumber: Tribun Jogja
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved