Syawalan Kampus UWM, Rektor: Dinamika Ramadan dan Lebaran Jadi Indikator Pertumbuhan Ekonomi DIY

Rektor Universitas Widya Mataram mengatakan situasi tersebut berbeda dengan Lebaran dua tahun terakhir, 2020-2021.

Tayang:
Penulis: Ardhike Indah | Editor: Muhammad Fatoni
TRIBUNJOGJA/Istimewa
Rektor UWM, Prof Dr Edy Suandi Hamid MEc, saat menyampaikan pidato syawalan di kampus UWM, Senin (9/5/2022) 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Ardhike Indah

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Di masa libur Lebaran 2022, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dipadati oleh pemudik yang juga menjadi wisatawan mengunjungi beberapa destinasi wisata.

Sejumlah ruas jalan dipadati kendaraan luar daerah. Apalagi, di kawasan Malioboro, mobil-mobil mengantre untuk masuk ke obyek paling tenar di DI Yogyakarta itu.

Melihat hal tersebut, Rektor Universitas Widya Mataram (UWM), Prof Dr Edy Suandi Hamid MEc, mengatakan situasi tersebut berbeda dengan Lebaran dua tahun terakhir, 2020-2021.

“Kita bisa lihat, lokasi pariwisata sesak oleh kehadiran pengunjung. Hotel-hotel di Yogyakarta penuh dengan orang menginap. Dua tahun lalu tidak begitu. Ini kaitannya dengan pertumbuhan ekonomi daerah dan nasional,” ujarnya dalam iftitah syawalan 1443 H di Kampus UWM, Senin (9/5/2022).

Dia melanjutkan, selama 2020, pertumbuhan ekonomi di tengah pandemi Covid-19 tahun pertama hanya tumbuh 2,07 persen. 

Kemudian, tahun kedua pandemi pada 2021, ekonomi nasional hanya tumbuh 3,69 persen. 

Artinya, dengan geliat pasar di berbagai daerah yang meningkat kegiatannya selama Ramadan dan Lebaran, ada rasa optimis bahwa perekonomian bisa terangkat.

“Kita berharap semarak mudik dan berbagai kegiatan ekonomi di sektor pariwisata dan perhotelan menjadi indikator positif pertumbuhan ekonomi nasional 2022 sehingga bisa mencapai 5 persen,” ujar dia.

Berkaitan dengan hikmah syawalan, Prof Edy menyatakan syawal harus menjadi momentum meningkatkan kolaborasi. 

Dalam mengelola universitas, kerja kolektif patut menjadi model. Tidak ada satu pun dari pimpinan, dosen, tenaga kependidikan yang merasa paling hebat, paling kuat. 

“Perguruan tinggi bisa maju bila pengelolaannya didasari semangat kerjasama dan tolong menolong,” tukasnya. (*)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved