Mutiara Ramadhan Tribun Jogja LDNU DIY

Berinteraksi Dengan Alquran

Alquran adalah anugerah Allah SWT yang tak ternilai harganya. Di dalamnya terdapat pelajaran bagi umat manusia.

Editor: ribut raharjo
Istimewa
KH M Anis Mashduqi, Pengasuh PM Al-Hadi, Ketua LBM PWNU DIY 

Oleh : KH M Anis Mashduqi, Pengasuh PM Al-Hadi, Ketua LBM PWNU DIY

TRIBUNJOGJA.COM -  Alquran adalah anugerah Allah SWT yang tak ternilai harganya. Di dalamnya terdapat pelajaran bagi umat manusia yang disampaikan dalam bentuk cerita, berita, yang berisi pedoman hidup, jalan yang terbaik, juga hukum-hukum, penjelasan mengenai halal dan haram baik secara umum maupun spesifik, baik secara langsung maupun sindiran.

Di dalam Alquran terdapat jalan keselamatan dan cahaya, pembersihan hati dan petunjuk sebagaimana disampaikan Rasulullah SAW sendiri, “Aku tinggalkan kepada kalian dua perkara yang apabila dipegang teguh, maka kalian tidak akan tersesat, keduanya adalah Alquran dan Sunah Nabi.”

Di dalam hierarki sumber pengetahuan dan hukum Islam, Alquran merupakan sumber pengetahuan dan hukum (al-mashdar) tertinggi. Bahkan Al-Ghazali menuliskan dalam Al-Mustashfa bahwa Alquran secara hakikat adalah satu-satunya sumber. Sumber pengetahuan dan hukum seperti Hadits, Qiyas, Ijma’ dan lain sebagainya bermuara pada Alquran. Dalam arti, Alquran adalah sumber dari segala sumber pengetahuan dan hukum bagi umat manusia.

Alquran terjaga orisinalitasnya sampai sekarang, Alquran senantiasa tervalidasi dengan hapalan para sahabat dan generasi-generasi berikutnya secara masif maupun dengan teks yang terkodifikasikan sejak masa sahabat hingga sekarang. Allah SWT berfirman, “Sungguh kami yang menurunkan Alquran dan sungguh kami yang menjaganya.”
Berinteraksi dengan Alquran

Alquran mempunyai keutamaan-keutamaan yang spesifik dari bacaan-bacaan lainnya. Rasulullah bersabda, “Barang siapa membaca Alquran kemudian melihat orang lain telah diberi anugerah yang lebih baik darinya, maka sama saja ia telah meremehkan agamanya.” Nabi Muhammad juga menyampaikan bahwa sebaik-baik ibadah umatku adalah membaca Alquran.” Nabi juga menyampaikan, “Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Alquran dan yang mengajarkan Alquran.” Membaca Alquran meskipun tidak memahami maknanya tetap Allah SWT akan mengganjarnya dengan pahala, berbeda dengan kita membaca teks-teks lainnya. Umat Islam mengapresiasi Alquran dengan cara membacanya, menghapalnya, mempelajari kandungannya, menafsirkan dan menggali kedalaman ilmu-ilmunya.

Dalam berinteraksi dengan Alquran, umat Islam diharapkan menggunakan adab atau tata krama. Salah satu adab dalam berinteraksi dengan Alquran adalah mempunyai miqdar alqiraah (takaran bacaan). Utsman Ibn Affan, Ubay Ibn Ka'ab, Ibn Mas'ud, Zayd Ibn Tsabit adalah sahabat yang membagi Alquran ke dalam 7 bagian (ahzab), mereka mengkhatamkan Alquran setiap hari Jumat, khatam setiap 1 minggu, dimulai kembali hari Sabtu. Pada bulan Ramadan, Imam Abu Hanifah mengkhatamkan Alquran 60 kali, Imam Syafi'i mengkhatamkan 30 kali. Di antara apresiasi para sahabat dan ulama terhadap Alquran adalah dengan membacanya secara intens (istiktsar) atau terbatas (ikhtishar).

Adapun umat Islam berinteraksi dengan Alquran sesuai dengan batas kemampuannya. Di antara meraka ada yang cukup dengan membacanya, memperbanyak atau membatasi takaran bacaannya, ada juga yang mampu menghapalnya, ada juga yang memahami ilmu terdalam di baliknya dan mengambil mutiara hikmahnya.

Adab atau etika yang kedua adalah membacanya dengan pelan (al-tartil). Bacaan pelan diharapkan akan memudahkan seseorang lebih khusyu’ dan mampu merenungkan isi bacaannya. Salah satu hal penting dalam kita membaca Alquran adalah memahaminya (tafahhum) sehingga bisa mengambil faidah dari Alquran yang dibacanya. Ummu Salamah menjelaskan bacaan Rasulullah SAW dengan karakter jelas dan huruf per huruf. Sahabat Ibn Abbas juga pernah mengatakan, “Jika aku diminta membaca Surah Albaqarah atau Ali Imran dengan pelan sehingga mampu men-tadabburi-nya maka lebih aku suka daripada mengkhatamkan Alquran dengan tergesa.” Bacaan yang pelan juga memiliki rahasia supaya orang yang membacanya lebih dekat kepada sikap menghormati dan memuliakan Alquran.

Selain kedua adab yang telah dijelaskan sebelumnya, ada sikap dan aktivitas batin yang seharusnya diperhatikan oleh siapa saja yang membaca Alquran, yaitu merenungkan dan meresapi bacaan Alquran.

Itulah kenapa bacaan yang pelan itu dianjurkan karena ia akan lebih memungkinkan seorang pembaca Alquran menghayati dan meresapi apa yang dibaca. Dalam hal ini, lisan bertugas untuk membaca Alquran dengan memberikan hak-hak huruf secara baik, tugas akal pikiran manusia adalah menafsirkan makna-maknanya, sedangkan tugas hati adalah merasakan, meresapi dan mengambil nasehat dan pelajaran dari Alquran yang dibaca. (*)

Sumber: Tribun Jogja
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved