Mutiara Ramadhan Tribun Jogja LDNU DIY

Perempuan Pendidik di Bulan Suci

Keseluruhan tradisi dan ritual yang dijalankan saat puasa menjadi media pendidikan yang sangat baik untuk mentransformasikan nilai, karakter.

Editor: ribut raharjo
Istimewa
Siti Muyassarotul Hafidzoh, Fatayat Nahdlatul Ulama (NU) 

Oleh: Siti Muyassarotul Hafidzoh, Fatayat Nahdlatul Ulama (NU)

TRIBUNJOGJA.COM - Ramadan adalah bulan pendidikan. Keseluruhan tradisi dan ritual yang dijalankan saat puasa menjadi media pendidikan yang sangat baik untuk mentransformasikan nilai, karakter, dan mental kepada anak.

Saat Ramadan, perempuan menempati posisi sangat penting, karena kegiatan Ramadan di berbagai kampung sulit sekali lepas dari peran aktif perempuan. Mulai buka bersama, kegiatan anak di masjid, persiapan Idulfitri, dan sebagainya.

Di sini, Ramadan jadi ‘Bulan Pendidikan’ yang sangat baik, dan perempuan punya peran sentral. Semangat peduli, berbagi, membantu, dan menolong sesama, dapat diajarkan perempuan untuk membentuk karakter anak Indonesia yang dahsyat di tengah cepatnya arus teknologi informasi.

Karena punya peran sentral di bulan suci dalam hal pendidikan, maka sangat tepat perempuan sendiri punya kapasitas yang cukup untuk menanamkan nilai itu kepada anak bangsa. Dalam konteks ini, sangat tepat merefleksikan apa yang disampaikan Kartini dalam surat-suratnya yang fenomenal.

“Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak perempuan, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kuwajibannya, kuwajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama.” (Surat Kartini kepada Prof. Anton dan Nyonya, 4 Oktober 1902)

Semangat Kartini tersebut sangat tegas, perempuan menjadi pendidik pertama yang sangat menentukan kualitas anak bangsa. Tanpa kualitas yang mumpuni, bagaimana mungkin perempuan mampu memberikan nilai dan ilmu kepada anak bangsa?
Tentu ironi, mengharapkan perempuan menjadi pendidik pertama, tetapi menafikan pendidikan buat perempuan itu sendiri. Karena itulah, pendidikan, terutama pendidikan literasi bagi perempuan sepatutnya terus kita kobarkan, sebagaimana telah ditegaskan Kartini dalam ruang kontekstual saat ini.

Pentingnya literasi bagi perempuan ini dalam rangka menunjukkan bahwa perempuan harus memiliki peran, di tengah angka kekerasan terhadap perempuan yang masih mencekam. Komisi Nasional Anti-Kekerasan Terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) mencatat ada 338.496 laporan kasus kekerasan berbasis gender (KBG) terhadap perempuan yang terverifikasi sepanjang 2021. Angka ini meningkat sekitar 50

Sumber: Tribun Jogja
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved