Mutiara Ramadhan Tribun Jogja LDNU DIY

Zakat Fitrah dan Pembangunan Masjid

Zakat fitrah adalah zakat yang wajib dibayar setiap orang Islam baik bayi, anak-anak maupun orang tua, orang merdeka maupun hamba sahaya.

Editor: ribut raharjo
Istimewa
Dr H Munjahid Mag, Wakil Rois Syuriyah PCNU Kota Yogyakarta, Dosen IIQ An Nur Yogyakarta 

Oleh: Dr H Munjahid Mag, Wakil Rois Syuriyah PCNU Kota Yogyakarta, Dosen IIQ An Nur Yogyakarta

TRIBUNJOGJA.COM - Zakat fitrah adalah zakat yang wajib dibayar setiap orang Islam baik bayi, anak-anak maupun orang tua, orang merdeka maupun hamba sahaya mulai awal bulan Ramadan hingga tanggal 1 Syawal sebelum waktu pelaksanaan shalat Iedul Fitri sebagai pencuci jiwa dan penyempurna pahala puasa Ramadan.

Zakat fitrah diwajibkan bagi setiap Muslim yang telah lahir pada saat matahari terbenam pada akhir bulan Ramadlan dan menjumpai malam 1 Syawal yang memiliki kelebihan bahan makanan untuk dirinya, keluaraganya, dan binatang yang wajibditanggung nafkahnya untuk malam hari raya dan siangnya.

Rasulullah SAW. bersabda, yang artinya:

“Rasulullah SAW. telah memfardlukan zakat fitrah 1 Sha’ dari gandum atau 1 Sha’ dari kurma atas anak kecil atau orang dewasa, orang merdeka atau hamba sahaya. (Shahih Bukhari , juz 2, hal 549)

Berdasarkan hadis di atas, menunjukkan bahwa besaran zakat fitrah adalah 1 sha’ kurma atau gandum (makanan pokok). 1 Sha’=3,1 liter atau sama dengan 2167 gram gandum. Apabila di suatu negara makanan pokoknya lebih berat dari pada gandum semisal beras, maka wajib untuk menambah dari ukuran tersebut, sehingga untuk kehati-hatian digenapkan menjadi 2,5 Kg (Sesuai ketentuan Baznas RI tahun 2018).

Bahkan bagi yang ingin memperoleh keutamaan sebaiknya digenapkan menjadi 3 Kg bagi yang memiliki kelebihan rizki. Memang ada banyak perbedaan pendapat tentang besarnya zakat fitrah, karena dalam hadis disebutkan 1 Sha’ (takaran), lalu dikonversi menjadi timbangan (berat). 1 Sha’ = 4 Mud (4 serok dua tangan ukuran sedang).

Letak perbedaannya pada ukuran tangan seseorang tidak sama, konversi dari takaran ke timbangan, konversi dari gandum/kurma ke beras, apalagi kalau dibayar dengan harga (uang) lebih kompleks lagi permasalahannya karena harga beras di suatu daerah berbeda dengan daerah lain, selain itu tingkat kualitas beras juga berbeda-beda.

Adapun waktu membayar zakat fitrah adalah: 1)Waktu diperbolehkan, mulai awal Ramadan – hari penghabisan bulan Ramadlan. 2) Waktu wajib, mulai terbenam mataharipenghabisan Ramadan. 3) Waktu utama, sesudah shalat Subuh sebelum pergi shalat hari raya. 4) Waktu Makruh, sesudah shalat hari raya sebelum terbenam matahari. 5) Waktu haram, sesudah terbenam matahari pada hari raya.

Kegunaan zakat fitrah adalah sebagai pembersih bagi orang-orang yang berpuasa dari tingkah laku yang sia-sia dan perbuatan yang kurang baik dan sebagai hidangan bagi orang-orang miskin terutama pada malam dan siang hari raya Iedul Fitri, agar para fakir dan miskin di hari kemenangan merasakan kebahagiaan.

Namun demikian, berdasarkan 8 asnaf yang terdapat dalam QS. At-Taubah ayat 60 tidak ada asnaf untuk pembangunan masjid. Namun biasanya sebagian umat Islam berdalih untuk “fi Sabilillah”,. Walaupun kebanyakan ulama tafsir memaknai fi sabililah dalam ayat tersebut untuk biaya perang melawan orang kafir, sebagaimana Tafsir Jalalain yang memaknai “fi Sabilillah” sebagai:

“Orang-orang yang menegakkan jihad dari orang-orang yang tidak memperoleh harta fai’ (harta rampasan yang diperoleh dari orang kafir tanpa melalui peperangan dan kekerasan) walaupun mereka adalah orang-orang kaya”. (Tafsir Al-Jalalain juz 1 hal 250)

Apakah membangun masjid bisa dikategorikan sebagai jihad fi sabilillah? Tergantung letak dan kondisi masjid tersebut. Misal, masjid yang berada di daerah mayoritas umat Islam dan sudah memadai sarana dan prasarananya, maka yang demikian kurang tepat.

Namun jika masjid tersebut terletak di daerah minoritas umat Islam yang masyarakatnya tidak mampu membangun masjid yang layak, sedangkan kebutuhan masyarakat terhadap masjid sangat mendesak, maka menggunakan zakat fitrah untuk pembangunan masjid tersebut bisa digolongkan sebagai asnaf ketujuh yaitu fi sabilillah. Wallahu a’lam.

Adapun membayar zakat fitrah dengan uang menurut Mazhab Syafi’i tidak diperbolehkan, sedangkan menurut mazhab Hanafi membolehkannya. (*)

Sumber: Tribun Jogja
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved