Citizen Journalism
Standar Puasa; Lahirkan Manusia Ihsan
Allah SWT menciptakan hidup dan mati, tidak lain, untuk menguji siapa di antara kita yang lebih baik amalannya.
Untuk mencapai standar ibadah yang ihsan memang tidak mudah.
Buruh proses agar bisa mencapai standar tersebut.
Jika belum mampu salat yang demikian, level di bawahnya dengan salat yang merasakan bahwa Allah SWT senantiasa melihat.
Salat dengan merasa dilihat Allah dengan yang tidak, hasilnya akan berbeda.
Ketika merasa dilihat Allah, maka akan baik dan berdampak luar biasa dalam menumbuhkan kekuatan, energi spiritual, terbangunnya integritas, serta hal-hal positif yang menyertai.
Jika tidak, maka salat hanya rutinitas tanpa berefek positif.
Begitu pula dalam menjalankan ibadah puasa saat Ramadan.
Standar puasa yang baik manakala sepanjang puasa tidak lepas dari ingatan kepada Allah SWT.
Mengisi puasa dengan berbagai kebaikan, memperbanyak ibadah yang semuanya membentuk atmosfer dzikir kepada Allah.
Hasil puasa yang demikian tentu akan berbeda dengan orang yang puasa namun banyak menghabiskan waktu dengan hal-hal yang bertentangan dengan maksud puasa itu sendiri.
Ada tiga level standar puasa yang disebutkan oleh Imam Alghazali.
Pertama, standar minimalis, yakni hal-hal terkait syarat, rukun, sah tidaknya, dan yang membatalkan puasa.
Disebut standar minimal karena puasa hanya menggugurkan kewajiban, tetapi tidak memberi efek apapun, seperti tujuan menjadikannya bertakwa.
Bahkan, nabi mensinyalir, banyak orang yang berpuasa namun tidak mendapatkan apa-apa, kecuali lapar dan dahaga.
Begitu juga orang berpuasa namun tidak bisa meninggalkan dusta, baik perkataan maupun perbuatan, maka tidak ada kepentingan bagi Allah bahwa ia puasa.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Dr-Tulus-Musthofa-Lc-MA-2.jpg)