Berita DI Yogyakarta Hari Ini
Masjid Pathok Negara Dongkelan Saksi Bisu Perjuangan, Pernah Ludes Dibakar Belanda
Masjid milik Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat ini menjadi saksi sejarah perjuangan melawan Belanda.
Penulis: Santo Ari | Editor: Gaya Lufityanti
TRIBUNJOGJA.COM - Masjid Nurul Huda Dongkelan atau Masjid Pathok Negara Dongkelan di Kalurahan Tirtonirmolo, Kapanewon Kasihan, Bantul adalah satu dari empat Masjid Pathok Negara yang ada di DIY.
Masjid milik Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat ini menjadi saksi sejarah perjuangan melawan Belanda.
Marbot Masjid Pathok Negara Dongkelan , Bustomi menceritakan bahwa masjid ini didirikan pada tahun 1775 dengan Kyai Syihabudin sebagai penghulunya.
Selain sebagai tempat untuk syiar Agama Islam, pada zaman itu masjid Masjid Pathok Negara Dongkelan juga sempat dipakai oleh Pangeran Diponegoro untuk menyusun strategi melawan penjajahan Belanda.
Baca juga: Melihat Akulturasi Bangunan Hindu-Islam di Masjid Gedhe Mataram
"Setahu saya saat zaman Pangeran Diponegoro, Masjid Pathok Nagari digunakan untuk dakwah dan strategi perjuangan kemerdekaan RI yang diprakarsai Pangeran Diponegoro. Pangeran Diponegoro dulu dicari-cari Belanda mau dibunuh hingga akhirnya bersembunyi di Gua Selarong," ujarnya saat ditemui Rabu (20/4/2022).
Masjid Pathok Negara Dongkelan merupakan salah satu saksi bisu peran masjid pathok negara sebagai sistem pertahanan di mana masjid ini sempat ludes dibakar Belanda tahun 1825 karena dianggap sebagai tempat berkumpulnya pengikut Pangeran Diponegoro.
"Pernah dibakar Belanda hingga hanya menyisakan umpak (batu penyangga tiang masjid). Jadi sampai saat ini umpaknya masih asli dari batu, yang bagian dalam Masjid tapi bukan yang bagian serambi," ungkap pria yang juga sebagai abdi dalem Kraton, dengan nama Mas Muh Bekel Bustomi,
Seiring berjalannya waktu, Masjid Pathok Negara Dongkelan telah menjalani beberapa perbaikan bangunan.
Selama 21 tahun pengabdian Bustomi menjadi marbot saja masjid ini sudah dilakukan rehab sebanyak 5-7 kali.
Seperti masjid lain pada umumnya, saat Ramadan Masjid Pathok Negara Dongkelan banyak menggelar kegiatan seperti buka bersama, pengajian dan tadarusan.
Yang berbeda adalah, masjid ini seringkali digunakan sebagai tempat untuk nyadran atau ziarah. Di mana peziarah akan banyak berdatangan menjelang bulan Ramadan.
Menurutnya, sejumlah ulama dimakamkan di komplek masjid tersebut, antara lain KH M Munawwir, KH Ali Maksum, dan lain-lain.
Baca juga: Melihat Masjid Pathok Negoro Plosokuning yang 80 Persen Masih Terjaga Keasliannya
Sehingga banyak peziarah dari penjuru Indonesia mendatangi masjid ini.
Setidaknya 100-200 peziarah datang di hari biasa dan pada hari jumat-minggu akan lebih banyak lagi.
Selain itu Bustomi mengatakan bahwa di masjid ini juga terdapat bedug yang hanya dibunyikan saat Ramadan saja.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Masjid-Pathok-Negara-Dongkelan-Saksi-Bisu-Perjuangan-Pernah-Ludes-Dibakar-Belanda.jpg)