Berita DI Yogyakarta Hari Ini

Bondan Nusantara Berpulang, Dunia Seni Ketoprak Berduka

Dunia pertunjukan kesenian kethoprak berduka, setelah maestro asal DI Yogyakarta yakni Bondan Nusantara meninggal dunia, Rabu (20/4/2022).

Penulis: R.Hanif Suryo Nugroho | Editor: Gaya Lufityanti
TRIBUNJOGJA.COM / Hanif Suryo
Suasana rumah duka maestro seni pertunjukan kethoprak, Bondan Nusantara di Kasongan, Rabu (20/4/2022) malam. 

Bondan belajar menulis naskah kethoprak dari Handung Kussudarsana pada tahun 1980.

Naskahnya telah dimainkan dan disiarkan di beberapa radio di Yogyakarta, di antaranya di Rasia Lima, Retjo Buntung, dan MBS Kotagede.

Dia juga menulis naskah kethoprak sandiwara di TVRI sampai dengan 1999.

Dia juga menjadi sutradara dan penulis naskah untuk Komunitas Seni Dagelan Mataram Baru.

Pria kelahiran Yogyakarta, 6 Oktober 1952 ini berani membuat konsep pementasan Kethoprak Plesetan Sapta Mandala Kodam VII Diponegoro pada tahun 1991.

Banyak prestasi serta penghargaan pernah diraihnya, di antaranya sebagai Aktor Terbaik Festival Kethoprak se-DIY (1983); Sutradara Terbaik Festival Kethoprak antar Dati II se-DIY (1984-1986); Sutradara Terbaik Festival Pertunjukan Rakyat Daerah Istimewa Yogyakarta (1987); Juara III Penulisan Cerpen Bahasa Jawa se-Jawa Timur (1993).

Baca juga: Sebanyak 8 Seniman dan Budayawan di Kota Yogyakarta Diganjar Penghargaan oleh Pemkot 

Bondan Nusantara lahir pada 6 Oktober 1952  ini juga mempunyai sebuah buku yang isinya mengulas sepak terjangnya menjadi pemain, penulis skenario hingga pelestari kethoprak.

Buku setebal 448 halaman berjudul ''Bondan Nusantara: Mewajah Kethoprak Indonesia" ditulis Purwadmadi, berisi tentang mimpi besar Bondan yang tak ingin kesenian kethoprak mati.

Informasi dari sang putra, Bondan Nusantara sebelumnya sudah berpesan agar jenazahnya dikremasi ketika tutup usia.

Misa kebaktian rencananya akan diselenggarakan Kamis (21/4/2022) pukul 11.30 WIB di kediamannya di Jalan Kasongan, Kajen, Bangunjiwo, sedangkan proses kremasi dilakukan di Krematorium Yayasan Wahana Mulya, Jalan Tentara Rakyat Mataram, Bumijo, Jetis, Kota Yogyakarta pada pukul 14.00 WIB.

"Setelah proses kremasi, abunya dibawa kembali ke rumah entah nanti 7 atau 40 hari. Setelah itu, bapak sudah berpesan kepada adik saya dan teman-teman pegiat seni ketoprak agar abunya dilarung," jelas Arcaya. ( Tribunjogja.com

Sumber: Tribun Jogja
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved