Mutiara Ramadhan Tribun Jogja LDNU DIY

‘Amnesti’ Allah di Bulan Suci

Perbincangan mengenai kegembiraan menyambut tamu agung, bernama Ramadan, juga terkait dengan suasana hati.

Editor: ribut raharjo
Istimewa
Gugun El Guyanie, Wakil Sekretaris Tanfidziyah PWNU DIY, Dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta 

Oleh: Gugun El Guyanie, Wakil Sekretaris Tanfidziyah PWNU DIY, Dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

TRIBUNJOGJA.COM - Di dalam kitab durrotun nasihin, ada sebuah hadis yang populer tentang kegembiraan umat Islam menyambut Ramadan. Terlepas apakah derajat hadis tersebut oleh sebagian ulama dianggap dhoif atau maudhu', tapi secara substansi mengandung penuh makna."Man fariha bidukhuli romadhona harramallahu jasadahu 'alanniiroon" (Barangsiapa yang bergembira hatinya memasuki bulan Ramadan, Allah akan mengharamkan jasadnya atas api neraka).

Mengapa Rasulullah SAW menggunakan kata kunci "fariha" senang, bahagia, gembira? Hati manusia itu cenderung tidak stabil, kadang susah, kadang senang. Terkadang benci, tapi bisa berubah menjadi rindu.

Makanya Rasulullah mengajarkan doa Yaa Muqollibal quluub tsabbit qolbi 'alaa diinik (Wahai Dzat Yang Membolak balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama Mu).

Perbincangan mengenai kegembiraan menyambut tamu agung, bernama Ramadan, juga terkait dengan suasana hati. Janji Allah, siapapun yang gembira ria menyambut Ramadan tubuhnya tak akan disentuh oleh api neraka.

Maknanya sederhana, kalau diantara kita ada yang sepanjang hidupnya bersedih, terluka hatinya, tidak pernah bahagia, begitu Ramadan di depan mata, harus berubah menjadi bahagia. Kebencian, murka, kedengkian dan permusuhan harus diakhiri, diganti dengan perasaan senang berjumpa dengan Ramadan.

Ramadan menjadi bulan suka cita, gembira ria dan dipenuhi dengan cinta, ampunan dan dibebaskannya manusia dari ancaman hukuman neraka. Sama halnya ketika para terpidana, divonis bersalah oleh hakim, diancam pidana penjara atau hukuman seumur hidup. Begitu ada kabar dan putusan bebas dari pengadilan, betapa bahagianya, tak ada yang lebih berharga. Janji Allah mengenai bebas ancaman dari api neraka, diberikan kepada hati yang gembira menyambut bulan suci.

Dalam bahasa hukum, ada namanya amnesti, yang sering dimaknai sebagai pengampunan atau penghapusan hukuman. Bulan agung, bulan suci, disebut bulan penuh ampunan, bulan amnesti dari Allah. Amnesti biasanya diberikan oleh raja atau presiden, tentu dengan pertimbangan Mahkamah Agung dan DPR. Tapi amnesti Allah, sangat powerfull, tanpa melihat pertimbangan kekuasaan legislatif ataupun yudisial.

Bulan amnesti, Allah berkuasa menggunakan hak prerogatifnya untuk mengampuni atau menghapus dosa hamba-hamba yang dikehendakiNya. Bukan hanya penghapusan dan pengampunan saja, tapi banyak amal baik yang dilipatgandakan pahalanya. Allah menjanjikan kepada umat Rasulullah yang men-dawam-kan atau ajeg menjaga salat jamaah di bulan Ramadan, mendapatkan hadiah kota yang penuh dengan kenikmatan.

Di hadis lain juga dijanjikan siapapun yang menghadiri majelis ilmu di bulan Ramadan, akan ditulis oleh Allah setiap satu langkah kaki menuju tempat pengajian, tempat diskusi, tempat musyawarah ilmiah ilmu pengetahuan, satu langkah kaki diganjar satu tahun ibadah.

Maha Murah, Maha Kasih, Maha Cinta Allah kepada umat Nabi Muhammad. Sampai-sampai dalam hadis, sangat berlebihan idiom-idiom pahala: seperti mendapatkan kota yang penuh kenikmatan, satu langkah mendapatkan pahala sama dengan satu tahun ibadah. Idiom pahala, terkesan sangat berlebihan, copius, pleonastic, atau overstatement.

Tapi kita harus membaca dan memaknai dari eco-antropologis bangsa Arab yang hidup di gurun, padang pasir, yang mengagumi kota. Makna kota adalah sebuah kehidupan yang penuh kemegahan, masyarakatnya beradab, hukum ditegakkan, saling tegur sapa cinta. Tak ada permusuhan dan kompetisi yang culas. Jadi bukan kota yang maknanya lawan dari desa.

Begitu pula dengan pahala orang yang menghadiri majelis ilmu di bulan Ramadan. Jika direfleksikan, Ramadan mengajarkan dan memotivasi agar umat Islam punya semangat menuntut ilmu. Tidak ada batasan ilmu, apapun ilmu yang bermanfaat, bermanfaat untuk peradaban dunia dan keselamatan akhirat.

Jadi, bulan Ramadan bisa kita maknai sebagai bulan ilmu pengetahuan, bulan yang menginspirasi bahwa menghadiri majelis ilmu, satu langkah saja seperti satu tahun ibadah.

Maka bukan mulia ini jangan hanya direduksi hanya ibadah ritual seperti puasa, salat tarawih atau tadarus saja yang mendapatkan pahala berlipat ganda, tapi belajar, menuntut ilmu, kuliah, pengajian, diskusi ilmiah, riset akademik, semua tak kalah dengan pahala beribadah ritual bertahun-tahun. (*)

Sumber: Tribun Jogja
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved