Mutiara Ramadhan Tribun Jogja LDNU DIY

Melawan Korupsi Dengan Puasa

Puasa Ramadan berfungsi memenangkan nafsu lawwamah dalam pertempuran abadi antara kebaikan dan keburukan.

Editor: ribut raharjo
Istimewa
Tamyiz Muharrom, Wakil Rois Syuriah PWNU DIY 

Oleh: Tamyiz Muharrom, Wakil Rois Syuriah PWNU DIY

TRIBUNJOGJA.COM - Suatu saat terjadi percakapan antara Iblis dan setan tentang nasib manusia. Setelah Sayed Muhammad menjadi Rasul, pasukan setan datang kepada Iblis dan berkata, “Seorang Rasul telah datang dan satu bangsa telah muncul. Apa yang harus kita lakukan sekarang?” Iblis berkata, “Apakah mereka cinta dunia?” Mereka menjawab, “Ya.”

Iblis berkata: “Aku tidak mengkhawatirkan mereka sedikit pun, meski mereka tidak menyembah berhala, asal mereka tetap mencintai dunia. Aku akan datang kepada mereka pada pagi dan sore hari dengan tiga nasihat; (1) Carilah harta dengan zalim. (2) Habiskan uang di tempat yang tidak semestinya. (3) Kikirlah di tempat-tempat sedekah. Semua dosa berasal dari ketiga hal ini.”

Itulah “nasihat” Iblis yang perlu diwaspadai oleh manusia. Ketika manusia bisa menghindari kecintaan yang berlebihan pada dunia, maka ia akan selamat.Tetapi ketika masih kumanthil-manthil dengan dunia sampai menghalalkan segala cara, maka bersiaplah untuk menjadi pengikut sang Iblis.

Puasa Ramadan berfungsi memenangkan nafsu lawwamah dalam pertempuran abadi antara kebaikan dan keburukan. Dalam diri manusia ada dua nafsu yang selalu memengaruhi hati sebagai raja penggerak dari tubuh manusia. Pertama, nafsu lawwamah, yaitu nafsu yang membimbing manusia agar tidak tersesat.

Nafsu ini merupakan manifestasi Tuhan dalam diri manusia. Ia meniupkan kebaikan dan membisikkan kebenaran pada hati manusia. Menurut sebagian ulama, nafsu ini dalam diri manusia berbentuk akal budi.

Kedua, nafsu ammarah, yaitu nafsu yang mengajak manusia untuk berbuat kejahatan, menumpahkan darah di muka bumi, menyebar fitnah, korupsi, dan kebohongan.

Dengan seorang Muslim berpuasa, melakukan shalat tarawih, melantunkan kalam Ilahi, dan mendendangkan doa-doa, maka nafsu ammarah akan semakin lemah, dan kekuatan lawwamah semakin kuat, sehingga seorang hamba menjadi semakin terbimbing meniti jalan kebenaran dan keridhaan Tuhan.

Dalam konteks kehidupan berbangsa yang sedang menggalakkan pemberantasan korupsi, maka puasa harus dijadikan titik tolak pemberantasan korupsi dari pribadi masing-masing. Nabi berkata: “ibda’ binafsik” (mulailah kebaikan dari dirimu sendiri). Puasa bukan hanya dimaknai menahan makan dan minum, tetapi menahan melakukan korupsi.

Korupsi yang merajalela di negeri ini dikarenakan seperti pesan Iblis tadi, bahwa manusia terlalu mencintai dunia (harta benda), sehingga menghalalkan segala cara. Maka tidak salah kalau Syekh Ibn Athaillah dalam kitab al-Hikam mengutip Rasulullah mengatakan: “Hubb al-dunya ra’su kulli khathiatin“ (mencintai dunia berlebihan merupakan pangkal kesalahan dan dosa).

Harta benda di dunia bukan berarti dihindari dan ditinggalkan, tetapi kecintaan yang berlebihan sehingga menghalalkan segala cara, seperti korupsi dan kolusi itu yang harus dibuang jauh dari umat Islam. Umat Islam harus bisa mengendalikan kecintaannya kepada harta benda secara tidak berlebihan. Silakan mencari harta, mencari rezeki, tetapi dengan jalan yang halal lagi benar. (*)

Sumber: Tribun Jogja
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved