Berita Bantul Hari Ini
Tradisi Takjil Bubur Sayur Masjid Kauman Bantul Sudah Kembali Normal
Bubur ini merupakan takjil yang sudah menjadi tradisi turun temurun di masjid yang dikenal dengan Masjid Kauman Bantul tersebut.
Penulis: Santo Ari | Editor: Gaya Lufityanti
TRIBUNJOGJA.COM - Setiap menjelang waktu berbuka, ibu-ibu dan remaja putri di Masjid Sabillurosya'ad, Padukuhan Kauman, Kalurahan Wijirejo, Kapanewon Pandak, selalu menyiapkan bubur sayur.
Bubur ini merupakan takjil yang sudah menjadi tradisi turun temurun di masjid yang dikenal dengan Masjid Kauman Bantul tersebut.
Ratusan porsi bubur sayur dibagikan gratis kepada masyarakat untuk berbuka puasa di bulan Ramadan .
Dan tahun 2022 kali ini menjadi momen yang ditunggu lantaran masyarakat dapat menjalankan kegiatan di masjid lebih leluasa setelah pemerintah memberikan kelonggaran-kelonggaran selama PPKM level 3.
Ketua Takmir Masjid Sabilurrosya'ad, Hariyadi menyatakan, saat awal pandemi kemarin atau tahun 2020 pihaknya menghentikan tradisi membagikan bubur sayur kepada masyarakat.
Baca juga: Masjid Jogokariyan Yogyakarta, Sehari Siapkan 3.000 Takjil, Ibu-Ibu RW Semangat Jadi Petugas Takjil
Kemudian di tahun 2021, bagi-bagi takjil gratis dimulai kembali, meski porsinya lebih sedikit.
Sebelum pandemi, setiap hari Jumat selama bulan puasa, Masjid Sabillurosya'ad selalu mengadakan pengajian dan membagikan takjil bubur sayur ke 400-500 orang.
Sementara di hari lainnya berkisar antara 100-150 porsi.
"Kita libur hanya tahun 2020. Di tahun 2021 kita buka lagi, meskipun tidak ada pengajian umum di hari jumat. Untuk tahun ini sudah pulih seperti sebelum pandemi, minimal kita menyajikan 100-150 porsi bubur per hari dan hari Jumat 400-500 porsi karena ada pengajian umum," ujarnya Selasa (5/4/2022).
Selain dinikmati di masjid saat buka puasa, pihaknya juga membungkus bubur sayur untuk warga yang tidak hadir di masjid.
"Karena masyarakat kita sudah terbiasa dengan takjil bubur maka bagi warga yang sakit, lansia, mereka tetap minta. Dibantu kerabat atau keluarga untuk membawa pulang bubur agar dapat dimakan di rumah," terangnya.
Lebih lanjut, ternyata Masjid Sabillurosya'ad tidak asal dalam memilih menu bubur ini untuk takjil buka puasa. Hariyadi mengatakan ada makna filosofi dalam menu bubur sayur tersebut.
Pihaknya meyakini bahwa tradisi takjil bubur ini adalah peninggalan pendiri masjid yaitu Panembahan Bodho pada abad 16.
Di mana bubur disebutnya berasal dari kata bibirin yakni berarti hal yang bagus. Maksudnya, masyarakat datang ke masjid untuk mendapatkan hal yang baik yakni ajaran agama.
Bubur juga dimaknai dengan kata 'beber' atau memberikan penjelasan dengan pengajian tentang agama Islam. Kemudian ada juga kata 'babar' dalam arti merata.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Tradisi-Takjil-Bubur-Sayur-Masjid-Kauman-Bantul-Sudah-Kembali-Normal.jpg)