Mutiara Ramadhan Tribun Jogja LDNU DIY

Perbedaan sebagai Rahmat

Keragaman dan perbedaan merupakan satu keniscayaan/ fenomena alami (sunnatullah) dalam segala aspek kehidupan termasuk dalam masalah-masalah agama.

Editor: ribut raharjo
Perbedaan sebagai Rahmat
Istimewa
HM Ikhsanudin SAG MSI, Wakil Ketua PWNU DIY/Dosen IIQ An Nur

Oleh: HM Ikhsanudin SAG MSI, Wakil Ketua PWNU DIY/Dosen IIQ An Nur

TRIBUNJOGJA.COM - Keragaman dan perbedaan merupakan satu keniscayaan/ fenomena alami (sunnatullah) dalam segala aspek kehidupan termasuk dalam masalah-masalah agama.

Hal ini seperti disebutkan dalam beberapa ayat al-Qur’an misalnya QS. Al-Maidah: 48 dan Qs. Hud: 118-119.

Keragaman dan perbedaan pandangan dalam Islam harus dipandang sebagai rahmah,“ikhtilafu ummati rahmah”,untuk saling berlomba-lomba dalam kebajikan, serta memberikan pilihan-pilihan kemudahan bagi umat sesuai konteks yang melingkupi umat tersebut.

Dalam perspektif kesejarahan, ikhtilaf terjadi di kalangan para sahabat,tabi’in, tabi’ tabi’in dan para imam besar kaum Muslim.

Akan tetapi, yang perlu dicatatbahwa perbedaan dan keragaman pandangan mereka tidak mengganggu keharmonisan hubungan mereka, atau pun menjadikan persaudaraan (ukhuwah Islamiyyah) mereka luntur.

Imam asy-Syahrastany (w. 458 H) dalam kitabnya Al-Milal wa An-Nihal,misalnya, merekam perbedaan yang cukup penting di antara para sahabat sejak Rasulullah sakit, hingga beliau wafat.

Di antaranya tentang ekspedisi Usamah, tempat pemakaman Rasulullah; soal imamah/suksesi pasca wafatnya Rasulullah, harta peninggalan Nabi berupa sebidang tanah di Fadak, dan lainnya. Namun, perbedaan sudut pandang ini dibolehkan dalam agama dan bertujuan untuk menegakkannya.

Para Imam besar pun memiliki pandangan yang beragam dan berbeda-beda dalam memutuskan suatu kasus.Tetapi mereka sangat toleran, menghormati, dan menghargai perbedaan itu.

Contoh yang sangat indah, misalnya, penghormatan Imam Syafi’i ketika beliau berkunjung ke Irak. Pada saat itu, beliau melakukan shalat Subuh dengan tanpa membaca doa qunut, walaupun beliau merupakan imam mazhab yang menghukumi sunnah muakad terhadap qunut subuh.

Halaman
123
Sumber: Tribun Jogja
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved