Berita Kabupaten Magelang Hari Ini
Ratusan Perajin Tempe dan Tahu di Magelang Tuntut Turunnya Harga Kedelai dan Minyak Goreng
Paguyuban Perajin Tahu dan Tempe di Desa Mejing, Kecamatan Candi Mulyo, Kabupaten Magelang menggelar aksi demo dengan menggeruduk
Penulis: Nanda Sagita Ginting | Editor: Kurniatul Hidayah
Laporan Reporter Tribun Jogja Nanda Sagita Ginting
TRIBUNJOGJA.COM, MAGELANG - Paguyuban Perajin tahu dan Tempe di Desa Mejing, Kecamatan Candi Mulyo, Kabupaten Magelang menggelar aksi demo dengan menggeruduk kantor DPRD Kabupaten Magelang akibat terjadinya kenaikan harga minyak goreng dan kedelai di pasaran, pada Jumat (25/03/2022).
Dengan menggendarai sekitar 20 bak truk , ratusan Perajin tahu dan Tempe diturunkan untuk menyampaikan aspirasi atas Kekecewaan mereka terhadap pemerintah.
Hal itupun, tertulis dari spanduk-spanduk yang dibawa oleh para aksi 'Harga minyak goreng dan kedelai Melejit Unlimited. Perajin tahu Tempe Terjepit dan Menjerit'.
Baca juga: Menteri ESDM Kunjungi BPPTKG, Pantau Aktivitas Gunung Merapi di Tengah Agenda G20 di Yogyakarta
Koordinator Perajin tahu dan Tempe, Yunis Sentyawan mengatakan, adanya kenaikan harga kedelai dan minyak goreng berimbas pada produktivitas para Perajin tahu dan Tempe.
"Atas kenaikan harga kedelai dan minya yang tidak beraturan membuat kami terancam gulung tikar. Harga kedelai yang awalnya Rp 7.000 per kilogram kini melambung naik menjadi Rp 12.500 per kilogram. Begitupun dengan minyak goreng , biasanya satu jerigen ukuran 17 liter seharga Rp 250 ribu sekarang dengan ukuran yang sama harganya mencapai Rp 370-400 ribu, itupun sulit didapat," ucapnya saat menyampaikan orasi di depan gedung DPRD Kabupaten Magelang.
Ia menambahkan, untuk kenaikan kedelai sudah dirasakan oleh para Perajin tahu dan Tempe sejak setahun lalu.
Namun, kenaikan kali ini berbeda karena hampir semua bahan utama pembuatan Tempe dan tahu turut naik drastis.
"Sudah setahun lalu ( harga kedelai ) seperti ini, tidak ada perbaikan. Harganya terus naik. Ini paling parah karena semua bahannya naik bersamaan. Kami kesulitan," ujarnya.
Di tengah kenaikan harga utama pembuatan tahu dan tempe, lanjutnya, para perajin tidak memiliki pilihan sehingga terpaksa tombok agar tetap berproduksi.
Ia mengaku, dalam sekali produksi para perajin rata-rata memerlukan hingga 2 kuintal kedelai dan satu jerigen minyak goreng .
Baca juga: Satpol PP Klaten dan Tim Gabungan Bongkar 13 Bangunan di Rawa Jombor
"Untuk produksi, kami sudah tombok bisa sekitar Rp1 juta -1,5 juta. Kalau kami perkecil ukuran maka produk tidak akan bagus, seperti tahu susur jika diperkecil ukurannya akan tipis dan sudah dikelola. Kalau, kami naikkan harga yang ada pembeli akan pergi," ujarnya.
Sementara itu, pihaknya juga menuntut agar pihak terkait melakukan sidak untuk alur distribusi minyak goreng. Karena, hingga saat ini ketersediaan minya goreng di pasar sangat minim dan langka.
"Ya, kami juga tuntut agar pihak berwenang bisa sweeping lah untuk minyok goreng ini. Masa, harga sudah naik tapi produk sulit didapatkan apalagi minyak curah," urainya. (ndg)