Dunia Wisata Baru: Teras Yogyakarta

Baru-baru ini di Kota Yogyakarta sedang gencar-gencarnya penataan kawasan Maliobora dengan cara relokasi pedagang kaki lima

Dunia Wisata Baru: Teras Yogyakarta
Ist
Rosa Nikmatul Fajri SE., M.Acc., Ak., CA, Dosen Universitas Alma Ata Yogyakarta

*Oleh: Rosa Nikmatul Fajri SE., M.Acc., Ak., CA, Dosen Universitas Alma Ata Yogyakarta

ISTILAH relokasi bagi sebagian masyarakat masih dianggap sesuatu yang “angker”. Stigma negatif  seringkali lekat dengan kata relokasi. Banyak yang menolak, namun banyak juga yang mendukung. Relokasi sendiri dalam kamus besar Bahasa Indonesia (KBBI) bermakna penggabungan konsep tata ruang, ekonomi, sosial, budaya dan politik.

Kebijakan relokasi yang dilakukan Pemerintah daerah tentu saja telah mempertimbangkan berbagai aspek baik itu sosial, ekonomi, budaya maupun berbagai aspek lainnya.

Baru-baru ini di Kota Yogyakarta sedang gencar-gencarnya penataan kawasan Maliobora dengan cara relokasi pedagang kaki lima yang selama ini identik dengan kawasan malioboro. Banyak kekhawatiran timbul baik dari pedagang sendiri, pelaku wisata, maupun masyarakat umumnya.

Dari sudut pandang pedagang, relokasi tempat usaha kaki lima ini pada kenyataannya memang akan sedikit banyak memperngaruhi tingkat pendapatan. Namun hal itu biasanya hanya bersifat sementara. Pola perilaku konsumen Indonesia cenderung mudah beradaptasi terhadap perubahan gaya, lokasi maupun semua hal yang terkait aktivitas belanja.

Relokasi pedagang kaki lima yang ada di kawasan Malioboro memang sudah merupakan hal yang tidak terelakkan. Dari sisi tata ruang di Yogyakarta, keberadaan pedagang kaki lima yang semakin banyak mulai sulit untuk dikondisikan dan dianggap mengurangi keindahan dan kenyamanan kawasan Malioboro.

Maka dari itu, Pemerintah Kota Yogyakarta melalui Surat Edaran Nomor 430/1.131/SE.Disbud/2022 tentang pelaksanaan penataan kawasan khusus pedestrian di Jalan Malioboro dan Jalan Margo Mulyo, berusaha menata ulang kawasan Malioboro dengan cara melakukan relokasi pedagang kaki lima sepanjang Jalan Malioboro ke dua lokasi baru telah disediakan dan telah dilaksanakan sampai 7 Februari 2022 lalu. Pendekatan secara persuasif dilakukan melalui tim Satpol PP DIY agar proses relokasi berjalan tertib dan aman.

Lokasi relokasi baru berada di dua tempat yaitu Teras Malioboro Satu dan Teras Malioboro Dua. Teras Malioboro Satu berdiri dilahan seluas 800 m2 dan terletak di sebelah selatan kawasan Malioboro di Jalan Margomulyo atau barat Pasar Beringharjo.

Lokasi ini merupakan bekas Biokop Indra yang merupakan salah satu bioskop terkenal pada jaman Belanda. Sedangkan Teras Malioboro Dua berdiri dilahan seluas 1000 m2 dan terletak di sebelah utara kawasan Malioboro yang merupakan bekas gedung Dinas Pariwisata DIY.

Teras Malioboro merupakan perwujudan kepedulian Pemerintah Kota Yogyakarta dalam rangka menata dan sekaligus mensejahterakan para penjual kaki lima di kawasan Malioboro. Terlaksananya relokasi penjual kaki lima diharapkan  adanya kenyamanan baik pedagang maupun konsumen saat berbejanja dan menikmati kawasan Malioboro.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jogja
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved