Biodata Ida Fauziyah, Menteri yang jadi Sorotan Buruh Karena Teken Aturan JHT Cair di Usia 56 Tahun

Sosok Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Ida Fauziah beberapa hari terakhir tengah menjadi sorotan kalangan buruh.

Penulis: Hari Susmayanti | Editor: Hari Susmayanti
kemnaker.go.id
Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah 

TRIBUNJOGJA.COM, JAKARTA - Sosok Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Ida Fauziah beberapa hari terakhir tengah menjadi sorotan kalangan buruh.

Hal itu menyusul dikeluarkannya Peraturan Menteri Ketenagakerjaan (Permenaker) Nomor 2 Tahun 2022 tentang Tata Cara dan Persyaratan Pembayaran Manfaat Jaminan Hari Tua.

Dalam Permenaker yang ditandatangani oleh Ida Fauziyah tersebut, diatur mengenai pencairan Jaminan Hari Tua (JHT) baru bisa dilakukan saat peserta memasuki usia 56 tahun.

Banyak kalangan terutama serikat pekerja, mendesak Ida Fauziah mencabut aturan yang ditekennya tersebut.

Argumen mereka bahwa dalam kondisi kesejahteraan buruh yang merosot, keberadaan JHT menjadi semacam dana yang diandalkan bagi kaum buruh ketika terhimpit dalam kesulitan ekonomi maupun sebagai modal memulai usaha.

Menanggapi berbagai protes, sejauh ini Ida Fauziah tidak bergeming.

Dalih pemerintah, JHT bisa digunakan sebagai penjamin saat hari tua.

Dikutip Tribunjogja.com dari Kompas.com, berikut ini adalah biodata dan perjalanan karir Ida Fauziyah yang awalnya anggota DPR hingga menjadi seorang menteri.

Nama Ida Fauziah sangat lekat dengan partai asalnya, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

Sosoknya juga cukup dikenal di kalangan Nahdlyin NU.

Ida Fauziah pernah menjabat sebagai Ketua Umum Pengurus Pusat Fatayat NU.

Karier sebagai politikus terbilang sangat senior.

Ida Fauziah adalah wakil rakyat sejak 1999 hingga sekarang atau 20 tahun duduk di kursi DPR.

Baca juga: Biodata Gus Baha, Ulama yang Dikenal Rendah Hati Asal Rembang Jawa Tengah

Perempuan kelahiran Mojokerto 17 Juli 1969 ini pernah menjadi Ketua Fraksi PKB di DPR.

Jabatannya sebagai menteri tak lepas dari kontribusi partainya dalam kemenangan Presiden Jokowi dalam Pilpres.

Ia Fauziah mengaku diajukan oleh Ketua Umum PKB, Muhaimin Iskandar, mewakili partai tersebut untuk berpartisipasi membantu Presiden Jokowi.

Sebelum jadi menteri, Ida Fauziah sempat mencoba peruntungan dalam Pilkada Jawa Tengah.

Ia pernah berpasangan dengan Sudirman Said di Pemilihan Gubernur Jawa Tengah.

Namun, dia gagal setelah kalah suara dari pasangan Ganjar Pranowo dan Taj Yasin.

Pada Pilpres 2019, Ida masuk pada tim kampanye nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf.

Dia diamanati untuk menjabat sebagai direktur penggalangan pemilih perempuan.

Sebelumnya, kementerian ketenagakerjaan juga diisi oleh politisi asal PKB yaitu, Hanif Dhakiri.

Hanif, menjelang akhir masa jabatannya juga sempat ditunjuk menjadi Plt. Kementerian Pemuda dan Olahraga (Menpora).

Selama di DPR, seperti dikutip dari Antara, Ida Fauziah sempat bertugas di Komisi VIII yang menangani bidang agama, sosial, pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak dan zakat.

Kemudian dia juga pernah bertugas di Komisi II yang menangani pemerintahan daerah. Ida pun ikut merumuskan Undang-Undang Otonomi Daerah.

Ida Fauziah juga ikut mendirikan Forum Parlemen untuk Kependudukan dan Pembangunan pada tahun 2001.

Ia pun ikut mendirikan Kaukus Perempuan Parlemen dan pada 2001-2004 menjadi salah satu ketua kaukus.

Sebelum berkecimpung di dunia politik, Ida sempat menjadi guru dan mengajar di MPAK Jombang pada 1994, SMP YPN (1996-1998), dan SMU Khadijah Surabaya (1997-1999).

Alumni IAIN Sunan Ampel dan Universitas Satyagama ini merupakan Pengurus Pusat Fatayat NU sejak 2010 hingga sekarang.

Biodata Ida Fauziyah

Tempat Tanggal Lahir : Mojokerto 17 Juli 1969 

Suami                              : Taufiq Abdullah

Anak                                 : Syibly Adam Firmanda, Adil Haq Firmanda

Partai Politik                   : Partai Kebangkitan Bangsa

Pendidikan                      : IAIN Sunan Ampel, Universitas Satyagama Jakarta (2013)

Riwayat Pekerjaan         : Guru di MPAK Jombang (1994), SMP YPN (1996-1998), dan SMU Khadijah Surabaya (1997-1999).

Buku                                  : Geliat perempuan pasca-reformasi: agama, politik, gerakan sosial

Sumber: Kompas.com
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved