Biodata Gus Baha, Ulama yang Dikenal Rendah Hati Asal Rembang Jawa Tengah
Gus Baha merupakan salah satu santri kesayangan almarhum ulama kharismatik, Syaikhina KH Maemoen Zubair atau Mbah Moen
Penulis: Hari Susmayanti | Editor: Hari Susmayanti
Semenjak hijrah ke Yogyakarta, banyak santri-santrinya di Karangmangu, Rembang yang merasa kehilangan induknya.
Hingga pada akhirnya mereka menyusul ke Yogya, patungan menyewa rumah di dekat rumah Gus Baha.
Tiada tujuan lain selain untuk tetap bisa mengaji kepadanya.
Ada sekitar 5 atau 7 santri alumni Al Anwar maupun MGS yang ikut ke Yogya saat itu.
Ada dua santri Gus Baha yang sangat terkenal yakni Masrukhin dan Musthofa, yang sering disebut-sebut dalam ceramahnya di Youtube.
Di Yogya inilah kemudian banyak masyarakat sekitar yang akhirnya minta ikut mengaji kepada Gus Baha.
Pada tahun 2005 KH Nursalim jatuh sakit.
Gus Baha pulang sementara waktu untuk ikut merawat sang ayah bersama keempat saudaranya.
Namun siapa sangka, beberapa bulan kemudian Kiai Nursalim wafat.
Gus Baha tidak dapat lagi meneruskan perjuangannya di Yogya sebab diamanati oleh ayahnya untuk melanjutkan tongkat estafet kepengasuhan di LP3IA Narukan.
Banyak yang merasa kehilangan atas kepulangan Gus Baha ke Narukan.
Para santri sowan dan meminta kembali ke Yogya.
Gus Baha pun bersedia namun hanya satu bulan sekali, dan itu berjalan hingga kini.
Selain mengasuh pengajian, Gus Baha juga aktif di Lembaga Tafsir Al-Quran Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta.
Gus Baha juga diminta untuk mengasuh pengajian tafsir al-Quran di Bojonegoro, Jawa Timur.
Di Yogya mendapat giliran minggu terakhir, sedangkan di Bojonegoro minggu kedua setiap bulannya.
Hal tersebut dijalani secara rutin sejak 2006 hingga kini.
Gus Baha adalah Ketua Tim Lajnah Mushaf UII.
Timnya terdiri dari para profesor, doktor, dan ahli-ahli al-Quran seantero Indonesia seperti Prof Dr Quraisy Syihab, Prof Zaini Dahlan, Prof Shohib dan para anggota Dewan Tafsir Nasional lain.
Ketika ditawari gelar Doctor Honoris Causa dari UII, Gus Baha tidak berkenan.
Dalam jagat Tafsir al-Quran di Indonesia, Gus Baha termasuk pendatang baru dan satu-satunya dari jajaran Dewan Tafsir Nasional yang berlatar belakang pendidikan nonformal dan nongelar.
Meski demikian, kealiman dan penguasaan keilmuan Gus Baha sangat diakui oleh para ahli tafsir nasional.
Pada suatu kesempatan pernah diungkapkan oleh Prof Quraisy bahwa kedudukan Gus Baha di Dewan Tafsir Nasional selain sebagai Mufassir, juga sebagai mufassir fakih karena penguasaan pada ayat-ayat ahkam yang terkandung dalam al-Quran.
Setiap kali lajnah menggarap tafsir dan Mushaf al-Quran, posisi Gus Baha selalu di dua keahlian, yakni sebagai mufassir seperti anggota lajnah yang lain, juga sebagai fakihul Quran yang mempunyai tugas khusus mengurai kandungan fikih dalam ayat-ayat ahkam al-Quran.
Sumber berita : Ma'had Aly Jakarta
(*)