Kasus Aktif Covid-19 Meroket Lagi, Presiden Jokowi : Hati-hati!

Hati-hati, saya ingin menegaskan kehati-hatian kita karena kasus aktif naik 910 persen. Dari yang sebelumnya 6.108 kasus pada 9 Januari menjadi 61.718

Tayang:
Penulis: Tribun Jogja | Editor: Mona Kriesdinar
SHUTTERSTOCK/natatravel
Ilustrasi varian Omicron 

Yang ketiga, kepala negara meminta pihak terkait disiplin dalam melakukan pengetatan di pintu-pintu masuk dan pelaksanaan proses karantina yang benar dari luar negeri. Sebab, Jokowi mengaku masih mendengar informasi ada permainan dalam teknis pelaksanaan karantina pelaku perjalanan luar negeri.

"Saya masih mendengar dan ini saya minta Kapolri untuk mengusut tuntas permainan yang ada di karantina. Sudah, karena saya sudah mendengar dari beberapa orang asing komplain ke saya mengenai ini," ungkapnya.

Yang keempat, Jokowi minta adanya evaluasi untuk pembelajaran tatap muka, utamanya di Jawa Barat, DKI Jakarta, dan Banten.

"Yang terakhir, terkait dengan vaksin. Saya minta terus dipercepat vaksinasi yang (dosis) satu, dua, tetapi juga saya minta vaksinasi booster juga terus dipercepat, utamanya capaian vaksinasi bagi anak 6-11 tahun dan bagi lansia," tambahnya.

Omicron merajalela

Juru Bicara Pemerintah untuk Covid-19, dr. Reisa Broto Asmoro mengatakan, berdasarkan data dan karakteristiknya, maka puncak kasus Covid-19 varian Omicron ini diperkirakan akan terjadi beberapa waktu mendatang.

"Kalau melihat kemarin kasus terus meningkat, diprediksi dalam beberapa pekan ke depan akan terjadi lonjakan gelombang ketiga," kata Reisa pada siaran Radio RRI, Selasa (1/2/2022).

Untuk menghindari dampak seperti gelombang sebelumnya, ia menyebutkan ada beberapa strategi yang telah dilakukan oleh pemerintah.

"Pemerintah sejauh ini menyiapkan itu. penguatan testing, treacing dan treatment (3T), vaksinasi juga sudah dimulai begitu pun booster. Kemudian telemedecine tersedia," kata Reisa.

Dihubungi terpisah, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung (P2PML) Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi menyebut bahwa Indonesia sebenarnya sudah mulai memasuki gelombang tiga virus corona (Covid-19).

Hal itu, kata dia, jika melihat mulai naiknya kasus Covid-19 harian di Indonesia dalam sepekan terakhir.

"Iya, sudah mulai masuk gelombang tiga, karena kasus kan mulai naik," kata Nadia.

Nadia menyebut lonjakan kasus Covid-19 dalam sepekan terakhir terjadi karena pemerintah menambah kuota surveilans seperti testing dan tracing di daerah. Ia menyebut, per 30 Januari, jumlah orang yang di tes adalah 5,75 per 1.000 penduduk per pekan. Jumlah pemeriksaan itu menurutnya jauh diatas angka anjuran Badan Kesehatan Dunia (WHO), yakni 1 per 1.000 penduduk per pekan.

"Peningkatan kuota testing dan tracing ini merupakan bentuk dari upaya deteksi dini dalam mencegah perluasan penularan, serta mencegah munculnya klaster sebaran yang baru. Ini juga merupakan usaha untuk mendeteksi lebih awal gejala Covid-19 yang diderita oleh tiap-tiap individu," kata dia.

Ia pun mengimbau agar pelaku usaha melakukan lockdown atau penutupan kantor secara terbatas dan sementara apabila ditemukan klaster baru Covid-19. Ia juga mengingatkan agar karyawan tetap membatasi diri dalam berinteraksi dengan rekan kerja.

Sumber: Tribunnews
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved