Kasus Aktif Covid-19 Meroket Lagi, Presiden Jokowi : Hati-hati!
Hati-hati, saya ingin menegaskan kehati-hatian kita karena kasus aktif naik 910 persen. Dari yang sebelumnya 6.108 kasus pada 9 Januari menjadi 61.718
Penulis: Tribun Jogja | Editor: Mona Kriesdinar
JAKARTA, TRIBUN - Angka kasus Covid-19 di Tanah Air meroket. Lampu peringatan untuk lebih waspada pun telah dinyalakan. Hingga Rabu Selasa 1 Februari 2022 kemarin, tercatat ada 81.349 kasus aktif Covid-19 di Indonesia. Padahal, pada 31 Desember 2021 lalu total kasus aktif Covid-19 di Indonesia hanya di angka 4.292.
Peningkatan kasus aktif Covid-19 ini berlangsung sangat cepat. Presiden Joko Widodo bahkan menyebut persentase peningkatan kasus aktif Covid-19 saat ini mengalami kenaikan 910 persen dari sebelumnya.
Karena itu Jokowi meminta para menteri dan pimpinan lembaga terkait kehati-hatian menyikapi kondisi pandemi saat ini.
”Hati-hati, saya ingin menegaskan kehati-hatian kita karena kasus aktif (Covid-19) naik 910 persen. Dari yang sebelumnya 6.108 kasus di tanggal 9 Januari (2022), kemudian menjadi 61.718 kasus di 30 Januari (2022)," ujarnya dilansir dari unggahan di laman resmi setkab.go.id, Selasa (1/2/2022).
Jokowi melanjutkan, penambahan kasus baru Covid-19 juga mengalami kenaikan 2.248 persen, yakni dari 529 kasus pada 9 Januari 2022 menjadi 12.422 kasus pada 30 Januari 2022.
"Sekali lagi, hati-hati kita dalam menyikapi ini," tegas Jokowi.
"Tapi, yang kita patut bersyukur meskipun kasus aktif naik 910 persen, tidak diikuti dengan melonjaknya angka kematian, ini bagus. Meskipun demikian, kita harus tetap waspada," lanjutnya.
Jokowi sebelumnya sudah memperkirakan kasus Covid-19 varian Omicron ini akan terus meningkat dalam beberapa pekan ke depan. Karena itu kata dia, pemerintah telah melakukan banyak persiapan untuk menghadapi lonjakan kasus itu.
”Perbaikan berbagai sarana prasarana fasilitas kesehatan disesuaikan dengan karakter varian omicron yang berbeda dengan sebelumnya, dan membutuhkan penanganan yang berbeda pula salah satunya dengan menyediakan layanan telemedisin,” kata Jokowi.
Ada beberapa hal yang ditekankan Jokowi. Yang pertama, melihat karakteristik dari Omicron, pemerintah harus menggunakan pendekatan penanganan yang berbeda.
Dalam jangka pendek, harus memperkuat bagian di hilir, sosialisasi, edukasi yang masif untuk masyarakat yang positif tanpa gejala, untuk melakukan karantina mandiri dengan konsultasi dokter secara mandiri di puskesmas, di faskes, atau melalui telemedisin.
"Dan kemudian stok obat-obatan yang ada di apotek-apotek ini betul-betul harus dikontrol keberadaannya," ungkap presiden.
Yang kedua, Jokowi meminta di bagian hulu dilakukan pencegahan transmisi lokal, terutama di enam provinsi yang menjadi penyumbang kasus aktif yang terbesar. Dia meminta agar kondisi enam provinsi itu betul-betul dimonitor dengan ketat.
"Tetapi juga masyarakat ditenangkan dan tidak usah panik, tapi harus tetap waspada," tutur Jokowi.
"Kemudian juga disiplin protokol kesehatan bersama TNI dan Polri, terutama 3M yang masif dan juga pelacakan kontak erat. Ini seperti yang sudah kita lakukan," lanjutnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Ilustrasi-varian-Covid-19-Omicron.jpg)