Kriminolog Atma Jaya : Apapun Istilahnya, Klitih dan Kejahatan Jalanan Itu Meresahkan

Baik klitih maupun kejahatan jalanan menurut Gregorius bukan istilah yang lahir dari kamus hukum.

Penulis: Miftahul Huda | Editor: Muhammad Fatoni
TRIBUNJOGJA.COM / Suluh
Ilustrasi Klitih 

Terlepas dari itu semua, Gregorius menegaskan ketika anak melakukan perbuatan yang memunculkan pidana, maka penanganannya harus sesuai dengan kejahatan lainnya apabila yang dilakukannya membahayakan nyawa seseorang.

“Mungkin ketika anak melakukan perbuatan pidana itu harus diberlakukan berbeda. Tetapi jika perbuatanya sudah membahayakan nyawa dan dilakukan berkali-kali, proses hukumnya harus sesuai kejahatan lainnya,” ujarnya.

Baca juga: Polisi Amankan Satu Tersangka Terduga Klitih di Lempuyangan

Baca juga: Kronologi Klitih Lempuyangan, Pulang Rayakan Tahun Baru Malah Kena Sabetan Celurit

Berdasarkan teori kriminologi, aksi klitih muncul dari rasa frustasi seseorang ketika standar hidupnya tak mampu menyamai orang tertentu.

“Dari frustasi itu kemudian menghasilkan kejahatan-kejahatan anti mainstream itu. Polanya melawan kemapaman,” terang dia.

Gregorius menekankan, seharusnya tidak ada celah bagi aparat kepolisian untuk memprises hukum terhadap pelaku kejahatan jalanan di Yogyakarta.

Sebab meski pelaku aksi kejahatan jalanan atau klitih berusia di bawah umur, apabila ancaman hukuman mereka lebih dari 7 tahun, semestinya dapat diproses secara ketentuan hukum yang berlaku.

“Apalagi menyebabkan korban meninggal dunia. Dan kalau dia melakukan berulang kali juga bisa diproses,” pungkasnya. (*)

Sumber: Tribun Jogja
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    Tribun JualBeli
    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved