Reformasi Kultur Tantangan Utama Polri

Reformasi Polisi pun tidak luput menjadi agenda perubahan itu sendiri. Ada 3 masalah pokok yang kemudian menjadi agenda Reformasi Polri

Tayang:
Editor: ribut raharjo
Istimewa
Dr Andry Wibowo SIK MH MSi 

Ia lebih kompleks dari yang dibayangkan, budaya beririsan dengan banyak aspek yang menstimulusnya dan menjadi potret budaya itu sendiri .

Mulai dari doktrin, norma, gaya kepemimpinan dan dinamika manajemen, sejarah sebagai memori bersama, tradisi berisi sub kultur - sub kultur yang bersifat positif atau negative yang tumbuh di dalam organisasi maupun lingkungan sosial yang saling mempengaruhi yang terfragmentasi dalam berbagai pengalaman interaksional.

“ Code of Silent“ polisi dan “People Silent” juga tumbuh dalam interaksi fungsional struktur formal dan struktur sosial sehingga tidak semua persoalan kultural mengemuka, dengan demikian Reformasi Kultural tidak dapat diukur sepenuhnya dan semata mata melalui statistik dan tabulasi complaint masyarakat melalui saluran aduan yang disiapkan atau bekerja secara sosial.

Reformasi Kultural pada birokasi dan polisi di dunia termasuk proses reformasi yang tidak mudah meskipun Reformasi Kultural adalah yang paling utama dan esensial dibanding dengan reformasi lainnya .

Berkaitan hal ini tidak sedikit yang gagal mewujudkan Reformasi Kultural ini meskipun instrumen pembangunan good government dan clean governance mengikuti rujukan dan parameter yang sama.

Inggris, Jepang, Hongkong adalah contoh Reformasi Kultural kepolisian yang relatif berhasil linear dengan keberhasilan reformasi di sektor lainnya termasuk perubahan banyak aspek di dalam sistem politik (penataan negara dan publik )yang lebih luas.

Pada buku “ FAILED NATION” bagaimana 2 wilayah yang bertetangga dengan komunitas yang sama di perbatasan Amerika Serikat dan Mexico mengalami nasib yang berbeda .

Komunitas orang Mexico yang hidup di wilayah Amerika Serikat mengalami kemajuan pesat pada kultur demokrasi yang didasarkan pada nilai-nilai demokrasi, termasuk mereka yang bekerja di instansi pemerintah dan kepolisian.

Sebaliknya, tetangga mereka yang hidup fi wilayah Mexico mengalami perubahan yang lebih lambat dari saudara mereka yang hidup di wilayah Amerika Serikat.

Buku ini menunjukkan bahwa instrumen yang sama belum tentu menghasilkan Kultur yang sama, sangat kompleks memang faktor-faktor yang merangsang kultur seseorang itu berubah termasuk kultur dalam organisasi polisi.

Dalam Perspektif Kepemimpin, Organisasi dan Manajemen , Reformasi Kultur adalah reformasi diperlukan agar organisasi bisa tetap berdaya guna secara efektif dan efisien dengan dukungan dan akseptabilitas publik yang luas. Bahkan dalam beberapa hal, strategi organisasi harus disesuaikan dengan kultur yang berkembang.

Strategi dan Program yang bagus sekalipun tanpa dukungan kultur organisasi yang baik tidak akan menghasilkan kemajuan yang maksimal bahkan dapat menggagalkan strategi yang telah di rencanakan.

Pada lingkungan organisasi yang menganut prinsip birokrasi persoalan kultur juga akan mempengaruhi kepercayaan anggota di dalamnya pada masa depan dirinya dan organisasi.

Ketika para anggota di dalam organisasi percaya pada kultur yang berkembang maka otomatis organisasi akan mendapatkan keuntungan yang berlipat ganda yaitu terjaganya marwah, terbentuknya soliditas dan tercapainya produktivitas kinerja.

Bagi masyarakat kultur yang positif dalam organisasi kepolisian akan menjadi role model kultur sosial sebagai wujud respectmasyarakat terhadap Polisi.

Hal ini menjadi tantangan utama dan prioritas Polri dan juga Pemerintah dalam pengembangan Polri ke depan sesuai dengan fondasi nilai-nilai luhur Polri (Catur Prasetya dan Tri Brata ) dan Negara ( Pancasila ).

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved