Pandemi Bukan Halangan, Karya Seni dari 7 Negara Dipamerkan Virtual dan Luring di ISI Yogyakarta 

Pandemi tidak menyurutkan semangat para seniman berkarya. Hal itu dibuktikan dengan adanya pameran internasional yang diselenggarakan

Penulis: Ahmad Syarifudin | Editor: Kurniatul Hidayah
TRIBUNJOGJA.COM/ Ahmad Syarifudin
Pengunjung menyaksikan karya seni rupa dalam pameran internasional bertema "Survivabilities and The Art" yang diselenggarakan di Gedung Ajiyasa Lantai 2, Fakultas Seni Rupa ISI Yogyakarta, Jumat (26/11/2021) 

TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Pandemi tidak menyurutkan semangat para seniman berkarya. Hal itu dibuktikan dengan adanya pameran internasional yang diselenggarakan Fakultas Seni Rupa, Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta.

Pameran di penghujung tahun 2021 ini bertajuk "Survivabilities and the Arts" dan diikuti seniman lintas negara.

Penyelenggaraannya dilaksanakan secara nyata (offline) dan virtual. 

Wakil Dekan III, Fakultas Seni Rupa Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, Lutse Lambert Daniel Morin mengatakan, pameran internasional yang diselenggarakan di Gedung Ajiyasa Lantai 2, Fakultas Seni Rupa, ISI Yogyakarta ini, dapat terselenggara atas kerjasama dari sejumlah perguruan tinggi di Indonesia dan negara sahabat.

Baca juga: Kesadaran Masyarakat Dinilai Tinggi, Kasus DBD di Kota Magelang Terus Melandai

Ada 7 Negara yang terlibat dalam pameran ini. Antara lain, Indonesia, Jepang, Korea Selatan, Malaysia, Singapura, Thailand dan Vietnam. 

"Total karya yang dipamerkan ada 72 karya dari 18 perguruan tinggi di Indonesia dan negara sahabat," kata dia, Jumat (26/11/2021). 

Pameran internasional ini berlangsung selama lebih kurang sembilan hari.

Mulai tanggal 26 - 4 Desember 2021. Dilangsungkan secara luring dan Virtual.

Di mana karya yang dipamerkan bisa diakses secara nyata maupun melalui streaming YouTube. 

Lutse mengatakan semua karya yang dipamerkan merepresentasikan keadaan pandemi Covid-19.

Bagaimana cara untuk tetap bertahan di tengah keadaan yang serba tidak pasti.

Ia berharap pameran Internasional ini dapat memberikan semangat kepada semua seniman di Indonesia dan dunia internasional bahwa pandemi bukan halangan, melainkan sesuatu yang memberikan dorongan berkarya agar lebih maju ke depan dengan semangat hidup selalu lebih indah dan bahagia. 

"Pameran ini diharapkan menjadi suatu forum seni internasional di mana para peserta secara langsung maupun tidak, bisa berbagi cerita survival mereka. Bagaimana melewati masa-masa khas dalam dua tahun terakhir ini atau selama masa pandemi, karya kreatif yang mereka masing-masing geluti dengan caranya yang spesifik atau extraordinary," kata Lutse. 

Karya yang dipamerkan adalah objek seni, konsep, dan narasi kreatif yang merupakan representatif gesture dan ekspresi manusia sebagai makhluk sosial.

Sebagian karya menghadirkan gambaran dunia yang sedang berubah secara exceptional akibat pandemi Covid-19.

Bahkan, ada karya patung  Virus Corona bertema Bloody Coronavirus. 

Baca juga: Polda DIY dan Anloc Jalin Sinergi, Bagikan Ratusan Sembako untuk Kusir Andong Wisata 

Karya patung yang terbuat dari batu andesit dan fiber tersebut milik Dwita Anja Asmara.

Dosen Jurusan Kriya ISI Yogyakarta itu membuatnya selama tiga bulan.

Dwita mengatakan, karyanya tersebut mengandung pesan bahwa Covid-19 telah membunuh banyak orang dan perlu kewaspadaan.

"Ini simbol darah yang meleleh. Saya memparodikan kasus blodi mary di Inggris. Seolah-olah itu hal yang membunuh. Ini simbol darah untuk keadaan Corona," kata dia. 

Dwita mengaku sangat senang bisa berkontribusi dalam pameran internasional ini. Sebab selama pandemi Covid-19, dirinya baru dua kali ini bisa mengikuti pameran secara langsung.

Ia juga senang, karena bisa menyaksikan karya-karya dari luar negeri melalui virtual. Adanya pameran ini, Ia berharap seniman tetap semangat untuk berkarya. (rif)

Sumber: Tribun Jogja
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved