Breaking News:

Kesadaran Masyarakat Dinilai Tinggi, Kasus DBD di Kota Magelang Terus Melandai

Pemerintah Kota (Pemkot) Magelang melalui Dinas Kesehatan menilai melandainya angka kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di wilayahnya

Istimewa
Nyamuk Aedes aegypti 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Nanda Sagita Ginting

TRIBUNJOGJA.COM, KOTA MAGELANG - Pemerintah Kota (Pemkot) Magelang melalui Dinas Kesehatan menilai melandainya angka kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di wilayahnya diakibatkan kesadaran masyarakat akan hidup sehat semakin tinggi.

Berdasarkan pendataan Dinkes Kota Magelang kasus DBD pada 2020 sebanyak 12 kasus dan Demam Dengue (DD) atau orang yang dalam gejala ringan sebanyak 70 kasus.

Sedangkan, sepanjang 2021 kasus DBD hanya 11 kasus dan DD sebanyak 26 kasus.

Baca juga: Polda DIY dan Anloc Jalin Sinergi, Bagikan Ratusan Sembako untuk Kusir Andong Wisata 

"Angka kasus (DBD/DD) tiap tahunnya selalu memperlihatkan penurunan. Capaian ini, turut dipengaruhi karena masyarakat sudah sadar bahayanya demam berdarah. Dulu, masih banyak yang tidak acuh, misalnya saluran pembuangan yang dibiarkan tergenang apalagi saat musim hujan. Kalau, sekarang sudah jarang terlihat hal seperti itu," terang Kepala Seksi Pencegahan Pemberantasan Penyakit Menular (P3M) Dinkes Kota Magelang, Lilik Sunarto, pada Jumat (26/11/2021).

Meskipun kesadaran akan hidup sehat sudah tinggi, lanjutnya, tetapi masih ditemui masyarakat yang tidak mengerti penanganan DBD apabila tertular.

Bahkan, sebagian lagi enggan  memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan.

"Edukasi penanganan apabila tertular memang masih rendah. Bulan kemarin (Oktober) ada satu orang terkena DBD  meninggal dunia karena lambannya penanganan. Seharusnya jika ada gejala seperti deman harus segara ke fasilitas kesehatan terdekat, jangan ditunda-tunda," ucapnya.

Baca juga: PT Angkasa Pura 1 Yogyakarta International Airport (YIA) Minta Keringanan PBB ke Pemkab Kulon Progo

Melihat masih banyak masyarakat yang belum paham dalam menangani DBD ketika terjangkit virus yang berasal dari nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus.

Pihaknya pun melakukan sosialisasi tentang bahaya DBD ke setiap kelurahan.

"Untuk mengentaskan DBD di setiap kelurahan, kami buatkan program satu rumah satu juru pemantau jentik (jumantik). Di mana nantinya akan dipilih kader kelurahan sebagai penyalur informasi maupun edukasi terhadap gaya hidup sehat kepada masyarakat. Dengan harapan, masyarakat lebih peduli terhadap lingkungannya,"urainya. (ndg)

Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved