Breaking News:

Sejumlah Warga Terdampak Tol Yogyakarta-Solo di 2 Desa Klaten Ajukan Gugatan ke Pengadilan

Proses musyawarah penetapan bentuk ganti kerugian tanah terdampak Jalan Tol Yogyakarta-Solo di Kabupaten Klaten memasuki Kecamatan Ngawen.

Penulis: Almurfi Syofyan | Editor: Kurniatul Hidayah
TRIBUNJOGJA.COM/ Almurfi Syofyan
Sejumlah warga Desa Senden, Kecamatan Ngawen, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah saat mengikuti Musyawarah penetapan ganti rugi tanah terdampak tol Yogyakarta-Solo, Rabu (17/11/2021). 

TRIBUNJOGJA.COM, KLATEN - Proses musyawarah penetapan bentuk ganti kerugian tanah terdampak Jalan Tol Yogyakarta-Solo di Kabupaten Klaten memasuki Kecamatan Ngawen.

Total di kecamatan ini terdapat 9 desa yang bakal dilalui oleh Proyek Trans Jawa itu, yakni Desa Kwaren, Majungan, Pepe, Tempursari, Kahuman, Ngawen, Senden, Gatak dan Duwet.

Hingga pertengahan November 2021 ini, sudah 7 desa yang menjalani musyarawarah penetapan bentuk ganti kerugian tanah terdampak tol. Terbaru, dilakukan musyawarah di Desa Senden, Kecamatan Ngawen, Kabupaten Klaten, Rabu (17/11/2021).

Baca juga: Terdampak Proyek Tol Yogyakarta-Solo, Petani Asal Senden Klaten ini bakal Terima Rp3,7 Miliar

"Dari 9 desa di Ngawen, sebanyak 7 desa sudah musyawarahkan, 2 desa belum yakni di Duwet dan Gatak, itu musyawarahnya rencana minggu depan," ujar Kepala Seksi Pengadaan Tanah Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kabupaten Klaten, Sulistiyono saat TribunJogja.com, Rabu (17/11/2021).

Menurutnya, dari 7 desa yang sudah di musyawarahkan itu, sebagian besar warga yang tanahnya ikut terdampak proyek tol tersebut setuju dengan penetapan bentuk ganti kerugian yang diajukan.

Namun di Desa Manjungan dan Desa Pepe terdapat beberapa warga yang tidak menyetujui nilai ganti kerugian dan mengajukan gugatan ke Pengadilan Negeri Klas 1 A Klaten.

Ia merinci, di Desa Manjungan terdapat 100 bidang tanah milik warga yang diterjang tol, saat mengikuti musyawarah tol kemarin, yang setuju dengan nilai UGR yang ditawarkan sebanyak 50-an bidang sisanya masih fikir-fikir dan belum setuju.

Adapun, di Desa Pepe, dari 163 bidang tanah yang terdampak, sebanyak 120-an warga pemilik bidang tanah setuju dengan musyawarah penetapan bentuk ganti kerugian. Sisanya belum setuju dan mengajukan gugatan ke pengadilan.

"Kalau ada yang menggugat itu sudah bagian dari tahapan dalam pengadaan tanah, itu kan hak warga yang terdampak, mereka dalam waktu 14 hari harus mengajukan gugatan," jelasnya.

Menurut Sulis, gugatan yang diajukan tersebut tidak mempengaruhi tahapan pembebasan lahan untuk jalan bebas hambatan Yogyakarta-Solo di Kecamatan Ngawen itu.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved