Berita Sains

Terungkap, Perbukitan di Tepi Jalan Magelang Ini Ternyata Berusia 3,5 Juta Tahun!

Seorang mahasiswa pascasarjana Teknik Geologi UGM, Alva Kurniawan menyimpulkan genesis perbukitan Gendol diakibatkan vulkanisme purba insitu.

Tayang:
Penulis: Setya Krisna Sumargo | Editor: Mona Kriesdinar
TRIBUNJOGJA.COM | Setya Krisna Sumarga
Kawasan perbukitan di Salam, Magelang 

Di puncak bukit ini pula ditemukan Prasasti Canggal bertarikh 732 Masehi di masa Raja Sanjaya. Selanjutnya masih ada Bukit Grogolan, Bukit Karanggeneng, Bukit Ndrakila, dan Bukit Dali.

Bukit Gendol dapat dibagi menjadi Bukit Gendol Utara dan Bukit Gendol Selatan. Bukit Lempong juga dapat dibagi menjadi beberapa bukit.

Yaitu, Bukit Lempong Utara (Bukit Lempong Semen), Bukit Lempong Barat (Bukit Lempong Tirto), Bukit Lempong Selatan (Bukit Budho), dan Bukit Lempong Timur (Bukit Pelampayan).

Unit bentang lahan ini selanjutnya dapat dibagi menjadi empat sub unit bentang lahan yaitu puncak, lereng, lembah, dan kaki.

Tinggi rata-rata puncak unit ini terhadap zona di sekitarnya adalah 70 m. Titik tertinggi unit ini mencapai 456 meter di atas permukaan laut (mdpl). Sedangkan kaki terendah unit ini memiliki elevasi hingga 250 mdpl.

Lereng-lereng pada unit ini memiliki sudut rata-rata 31° - 42° dengan lembah yang lebih landai bersudut lereng rata-rata 13° - 20°. Sisi-sisi unit ini memiliki sudut yang mirip sehingga dapat dikatakan memiliki lereng yang simetris.

Menjawab teori van Bemellen dkk yang mengatakan Bukit Gendol merupakan produk debris avalanche Merapi, Alva Kurniawan menyatakan pendapat itu dapat diterima jika alkalinitas batuan Gendol co-magmatism dengan batuan Merapi.

Kenampakan singkapan breksi vulkanik
Kenampakan singkapan breksi vulkanik (IST / Tesis Alva Kurniawan)

Akan tetapi dari hasil penelitiannya, alkalinitas batuan Gendol menunjukkan pola yang berbeda dengan batuan Merapi. Sehingga batuan Gendol tidak co-magmatism dengan batuan Merapi.

Hal itu berarti batuan penyusun Gendol bukanlah batuan Gunung Merapi. Karena itu menurutnya, pendapat tentang Gendol sebagai produk debris avalanche Merapi tidak dapat diterima karena batuan penyusunnya bukan batuan Merapi.

Berikutnya, menanggapi pendapat yang mengatakan Gendol merupakan produk normal faulting dari Perbukitan Menoreh, menurut Alva dapat diterima jika alkalinitas batuan Gendol co-magmatism dengan batuan Perbukitan Menoreh.

Namun hal itu menurutnya tidak terbukti. Alkalinitas batuan penyusun Gendol membentuk kelompok tersendiri yang berbeda dengan alkalinitas batuan Perbukitan Menoreh.

Hal ini juga berarti batuan penyusun Perbukitan Gendol tidak co-magmatism dengan batuan penyusun Perbukitan Menoreh sehingga pendapat tentang Perbukitan Gendol produk normal faulting Perbukitan Menoreh tidak dapat diterima.

Batuan intrusi
Batuan intrusi (IST / Tesis Alva Kurniawan)

Berdasarkan karakteristik petrografi dan geokimia, menurut penelitian Alva Kurniawan, menunjukkan batuan penyusun Perbukitan Gendol memiliki karakteristik tersendiri. Batuan tersebut berbeda dengan batuan Gunung Merapi maupun Perbukitan Menoreh.

Perbedaan karakteristik tersebut didukung oleh hasil Kalium-Argon dating, atau uji pertanggalan batuan yang dirujukknya dari riset Greg Newhall dkk (2000). Hasilnya, batuan Perbukitan Gendol memiliki umur 3.44 Ma atau 3,4 juta tahun.

Hal tersebut semakin memperjelas batuan Perbukitan Gendol jelas berbeda dengan batuan Gunungapi Merapi karena lebih tua. Juga jelas berbeda dengan batuan Perbukitan Menoreh karena umurnya lebih muda.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved