Gusmen Heriadi Seniman asal Minang Gelar Pameran Tunggal 25 Tahun Berkarya di Yogyakarta

 Seniman kontemporer Indonesia, Gusmen Heriadi menggelar pameran tunggalnya yang kesepuluh dalam karir berkeseniannya.

Penulis: Almurfi Syofyan | Editor: Kurniatul Hidayah
istimewa
Penampakan sejumlah karya yang dipamerkan oleh Seniman Gusmen Heriadi pada pameran tunggal 25 tahun berkarya di Jogja Gallery, 7-30 November 2021. 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Seniman kontemporer Indonesia, Gusmen Heriadi menggelar pameran tunggalnya yang kesepuluh dalam karir berkeseniannya.

Pameran kali ini menampilkan karya-karya terbaik yang dibuat oleh seniman asal Ranah Minang itu dalam rentang 25 tahun proses kreatif perjalanannya berkesenian.

Pameran tunggal restrospeksi atau mengulang kembali ini diberi tajuk “Belum Selesai”.

Adapun pelaksanaannya, digelar di Jogja Gallery selama hampir satu bulan, 7–30 November 2021. Tak kurang dari 150 potong karya dia pamerkan.

Baca juga: Tim Kosmopolis Rempah UGM Emban Misi Penting, Jadikan Rempah Nusantara sebagai Warisan Dunia

Karya-karya Gusmen, terdiri dari sketsa, drawing, lukisan hingga karya tiga dimensi. Gusmen menunjukkan kekayaan teknik dan keberagaman tema yang diangkatnya.

Pameran retrospeksi merupakan program dari Jogja Gallery. Ditawarkan pada seniman yang memiliki rentang waktu proses kreatif minimal 25 tahun.

“Tujuannya, untuk merekam dan melakukan pembacaan utuh atas karya-karya yang dihasilkan seniman dalam rentang waktu itu. Gusmen Heriadi mendapatkan kehormatan, jadi seniman pertama dalam program ini,” ujar General Manager Jogja Gallery, Daru Artono dalam keterangan yang diterima TribunJogja.com, Sabtu (6/11/2021).

Untuk memperkaya bacaan dan tafsir atas karya-karyanya, Gusmen mengundang delapan penulis dari berbagai latar belakang ilmu untuk dilibatkan merespon karya-karyanya.

Mereka adalah AA Nurjaman (penulis seni rupa), Sudjud Dartanto (kurator dan Dosen seni rupa ISI Yogyakarta), Heru Joni Putra (sastrawan), Yaya Marjan (jurnalis), Wenri Wanhar (sejarahwan dan jurnalis).

Kemudian, Rijal Tanmenan (etnomusikolog), Syam Terrajana  (perupa dan jurnalis) serta Syofiardi Bachyul Jb, penulis dan jurnalis yang tak lain kakak kandung Gusmen Heriadi.

Tajuk “Belum Selesai” sengaja dipilihnya,  sebagai  penanda pergumulan proses kreatifnya yang terus menerus bereksplorasi. Tanpa dikekang batas, tema atau sesuatu yang jadi ciri khas.

“Bagi Gusmen, suatu ciri khas kesenimanan tidaklah penting, yang penting justru mengembangkan hasrat berkarya yang kemudian diarahkan melalui kekuatan konsepsinya. Kekuatan dorongan hasrat inilah yang kemudian mampu mengkonseptualisasikan untuk ‘berbeda’ dan ‘menjadi’, yang dikaitkan dengan keterbukaan seiring perubahan sistem-sistem,” tulis AA Nurjaman dalam pengantarnya.

Menurut AA Nurjaman, pada periode awal  proses kreatifnya (1995-2004), Gusmen sudah menunjukkan keragaman gaya. Itu seperti mempertegas kebebasannya dari kungkungan ciri khas kesenimanan. Suatu ketika ia menampilkan lukisan realistik, di saat lainnya bergaya surealistik, kubistik, bahkan abstrak.

“Seperti seorang pekerja nomad, Gusmen tidak peduli dengan pengkategorian gaya-gaya lukisan ala Barat. Klasifikasi para filsuf Barat terhadap karya seni hanya berakibat mempersempit daya imajinasi seniman,” tulisnya lagi.

Halaman
123
Sumber: Tribun Jogja
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved