Sleman Catat 189 Kasus Demam Berdarah Hingga Oktober 2021, Satu Meninggal Dunia 

Musim penghujan telah tiba. Selain covid-19, sejumlah penyakit perlu menjadi kewaspadaan. Satu di antaranya Demam Berdarah Dengue (DBD). Kasus akibat

Penulis: Ahmad Syarifudin | Editor: Kurniatul Hidayah
Istimewa
Nyamuk aedes aegypti 

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Musim penghujan telah tiba. Selain Covid-19, sejumlah penyakit perlu menjadi kewaspadaan. Satu di antaranya Demam Berdarah Dengue (DBD).

Kasus akibat gigitan nyamuk Aedes aegypti ini tiap tahun hampir selalu ada. Dinas Kesehatan Sleman mencatat, dari Januari hingga Oktober 2021, ada 189 kasus DBD di Bumi Sembada. Satu orang meninggal dunia. 

"Tahun 2021 sampai Oktober, (DBD)189 kasus, meninggal 1 orang," kata Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular, Dinkes Sleman, Dulzaini, Kamis (4/11/2021). 

Baca juga: Sebanyak 15 Pasangan Tak Resmi Diamankan Satpol PP Klaten dari 14 Hotel dan Penginapan

Jumlah tersebut, mengalami trend penurunan, dibanding tahun 2020 lalu yang mencapai 810 kasus, dan satu orang meninggal dunia.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular, Dinkes Sleman, Novita Krisnaeni mengatakan, kasus demam berdarah dengue hingga kini masih ada. Sebab, Kabupaten Sleman merupakan daerah endemis DBD. Artinya, kasus ini akan selalu ada. Namun, dengan frekuensi atau jumlah kasus yang relatif rendah. 

"Tahun ini, kasus DBD lebih rendah dibanding tahun sebelumnya," kata Novita. 

Tidak dijelaskan rincian kasus. Namun, sebaran laporan dari kasus demam berdarah terbanyak, umumnya berada di kawasan padat penduduk atau pemukiman urban, yang berbatasan dengan kota.

Menurutnya, Dinas Kesehatan terus melakukan pelbagai langkah dan antisipasi, meski jumlah kasus mengalami penurunan. 

Ia mengimbau kepada masyarakat untuk memantau dan memberantas sarang nyamuk melalui 3 M.

Yaitu, menguras tempat yang menjadi perindukan nyamuk. Menutup rapat tempat  penampungan air.

Lalu, memanfaatkan kembali limbah barang bekas yang berpotensi menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk. Kemudian, tidak kalah penting adalah dengan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). 

Baca juga: Pemkot Yogyakarta Segera Gulirkan Swab Acak Peserta PTM, Bakal Dipilih 30 Siswa per Sekolah

"Kami juga menerapkan metode Wolbachia (program pengendalian Dengue dengan nyamuk ber-wolbachia). Mudah-mudahan bisa terus menurunkan kasus," kata dia. 

Selain DBD, di musim penghujan ini, masyarakat juga diminta mewaspadai sejumlah penyakit. Mulai dari ISPA, diare maupun leptospirosis.

Caranya dengan selalu menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat di manapun.

Sebab, pada tahun ini, penyakit bakteri yang menyebar melalui air seni hewan terinfeksi itu, tercatat sudah ada 10 kasus di Sleman dan dua orang meninggal dunia. (Rif)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved