Breaking News:

Dwi Susanto, Warga Bantul yang Sukses Budidaya Merak India Kebanjiran Pesanan saat Pandemi

Berawal dari kecintaannya dengan satwa, Dwi Susanto (33) warga Padukuhan Pereng Wetan, RT 55, Kalurahan Argorejo, Sedayu, Bantul

Penulis: Santo Ari | Editor: Kurniatul Hidayah
TRIBUNJOGJA.COM/ Santo Ari
Dwi Susanto bersama merak hasil budidayanya 

TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Berawal dari kecintaannya dengan satwa, Dwi Susanto (33) warga Padukuhan Pereng Wetan, RT 55, Kalurahan Argorejo, Sedayu, Bantul sukses meraup jutaan rupiah setelah membudidayakan merak biru atau merak india.

Bahkan pandemi Covid-19 ini justru membuat merak hasil budidayanya laris manis terjual ke seluruh Indonesia.

Ditemui di Prayitno Farm, tempat Dwi menangkarkan merak india, ia mengungkapkan kecintaannya pada satwa terkhusus burung dan unggas dimulai pada tahun 2006.

Saat itu ia ke Makassar untuk mendatangi pameran ayam ketawa, yang merupakan ayam asli Indonesia.

Baca juga: Pemkab Magelang Buka Layanan Call Center Untuk Masyarakat

Ia pun tertarik mengembangbiakan ayam ketawa tersebut di Yogyakarta dan membeli indukannya. Usahanya tersebut sempat diragukan oleh keluarga.

Orang tuanya mempertanyakan niat Dwi mengapa sampai membeli ayam dengan harga mahal.

"Tapi setelah akhirnya bisa menghasilkan anak ayam. Banyak yang datang membeli, akhirnya keluarga mendukung," ungkapnya.

Ia pun terus mengembangkan usaha peternakannya hingga tahun 2013 tercetus keinginan untuk membeli merak. Karena merak Indonesia dilarang diperjualbelikan, termasuk dipelihara, ia pun melirik merak dari India yang sudah bebas diperjualbelikan.

"Saya cari info ternyata merak itu bisa diimpor ke Indonesia, akhirnya saya minta tolong ke importir untuk mendatangkan hewan tersebut, alhamdulilah bisa didatangkan tahun 2013. Awalnya 5 ekor indukan, dan akhirnya bisa dikembangbiakan sampai sekarang," terangnya.

Dwi mengungkapkan bahwa memelihara merak india bisa terbilang mudah dan hampir sama caranya dengan memelihara ayam biasa. Bahkan menurutnya merek india sangat jinak karena merupakan hasil budidaya penangkaran.

Halaman
123
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved