Pendidikan
Terkendala Perbedaan Waktu, Mahasiswa di Kampus Yogyakarta Ingin Segera Kuliah Tatap Muka
Beberapa mahasiswa yang kuliah di DI Yogyakarta berharap kuliah tatap muka bisa segera diselenggarakan.
Penulis: Ardhike Indah | Editor: Gaya Lufityanti
Laporan Reporter Tribun Jogja, Ardhike Indah
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Beberapa mahasiswa yang kuliah di DI Yogyakarta berharap kuliah tatap muka bisa segera diselenggarakan.
Hal ini lantaran ada banyak hal yang menjadi kendala, salah satunya adalah zona waktu.
“Zona waktu Yogyakarta adalah WIB sedangkan Banjarmasin adalah WITA. Perbedaan waktunya memang tidak berbeda jauh hanya sekitar 1 jam. Tetapi, perbedaan 1 jam itu cukup memiliki dampak yang signifikan bagi saya,” ungkap Jonathan Christo Tarigan, mahasiswa Jurusan Manajemen Kelas Internasional, Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) kepada Tribunjogja.com, Kamis (7/10/2021).
Jonathan merupakan warga asli Banjarmasin, Kalimantan Selatan.
Ia sama sekali belum pernah menginjakkan kaki di kampus UAJY karena merupakan angkatan pertama yang harus kuliah daring.
Baca juga: Perguruan Tinggi Swasta di DI Yogyakarta Siap Gelar Kuliah Tatap Muka
Bahkan, pertama kali menggunakan teknologi untuk kuliah, dia mengaku sempat bingung dan cemas.
“Saya selalu terpaku kepada opsi kamera dan mikrofon. Saya terus memastikan mereka mati sepanjang acara kecuali jika saya berbicara,” paparnya.
Dia menjelaskan, pada semester tiga ini, dia memiliki banyak kelas pada sesi tiga dan empat, yang diselenggarakan mulai pukul 13.00-15.00 WIB dan 16.00-18.00 WIB.
Artinya, dia harus mengikuti pelajaran di sesi empat mulai pukul 17.00-19.00 WITA.
“Pilihan yang saya hadapi setiap hari adalah apakah saya langsung mandi pada saat kelas sesi 3 selesai atau mandi setelah sesi empat selesai? Jika saya mandi pasca kelas sesi tiga, saya mandi terlalu cepat, sedangkan jika saya mandi pukul 7 WITA, bahkan terkadang lewat dari itu), saya mandi terlalu malam,” tuturnya.
Di awal perkuliahan, dirinya memilih untuk mandi pasca sesi empat.
Namun, dia merasa dirinya tak bisa mandi di malam hari.
“Saya sempat jatuh sakit hingga harus bed rest hampir 2 hari. Syukur sekali saya sakit pada hari Jumat-Sabtu sehingga tidak mengganggu kegiatan perkuliahan karena hanya ada 1 kelas pada hari Jumat dan tidak ada kelas pada hari Sabtu,” bebernya.
Kendala lain, dikatakan Jonathan, adalah academic burnout.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/pemkab-sleman-berencana-usulkan-simulasi-belajar-tatap-muka.jpg)