Kisah Inspiratif

Istirahatlah, Gunawan Maryanto

Nama Cindhil semakin dikenal oleh publik tatkala dia memberikan jiwa kepada tokoh Wiji Thukul dalam film ‘Istirahatlah Kata-kata’.

Tayang:
Penulis: Ardhike Indah | Editor: Gaya Lufityanti
TRIBUNJOGJA.COM / Ardhike Indah
Pemakaman aktor dan seniman asal Yogyakarta, Gunawan Maryanto, Kamis (7/10/2021) 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Ardhike Indah

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Bukan sebuah rahasia jika Gunawan Maryanto (45), aktor dan seniman asal Yogyakarta merupakan seorang pekerja keras.

Sejak kecil, Cindhil, begitu sapaannya, ternyata sudah membentuk teater anak bernama Lasamba yang terbentuk di Padukuhan Karangmalang, Kapanewon Depok, Desa Caturtunggal, Sleman.

Teater anak itu sering menggelar pentas dari sekolah ke sekolah, ketika ada perpisahan maupun acara penting lainnya.

“Mas Wawan itu sudah jadi sutradara di usia kurang lebih kelas 5 SD. Almarhum sering menggelar pentas dari sekolah ke sekolah dan masjid. Kalau ada peringatan hari besar, teater mas Wawan itu diminta mengisi saat menunggu pengajian atau ustaznya datang,” ungkap kakak sepupu Gunawan Maryanto, Agus Basuki, Kamis (7/10/2021).

Cindhil memang tidak pernah betul-betul beristirahat, sedari dulu.

Baca juga: Aktor Gunawan Maryanto Meninggal Dunia, Rumah Duka Dipadati Pelayat

Sebelum meninggal pada Rabu (6/10/2021) pukul 20.00 WIB, dia sempat memimpin rapat membahas program Open Lab, sebuah platform pelatihan teater dari kelompok Teater Garasi.

Hingga akhir hayatnya, Cindhil masih mendedikasikan diri untuk menjadi aktor teater yang memberikan warna baru di dunia seni Indonesia.

“Kabar yang kami dapatkan, mas Wawan ini masih rapat di Teater Garasi, di Bantul. Sekitar jam 16.00 WIB, dibawa ke RS Ludiro Husodo. Diagnosa dokter, memang dia kena serangan jantung,” paparnya.

Kematian Gunawan Maryanto di usia yang masih produktif, 45 tahun, bukanlah hal yang disangka-sangka.

Agus bahkan tidak mengira, adiknya bisa pergi secepat itu.

Pihak keluarga sempat tidak percaya bahwa Cindhil telah tiada.

Agus, yang menjadi perwakilan keluarga Cindhil pun tidak dapat berkata banyak kepada wartawan.

Baca juga: Tiga Seniman Muda Berkolaborasi di Pameran Seni Titik Temu

“Beliau begitu loyal dengan pekerjaannya, terhadap teater. Totalitas beliau di atas panggung sudah tidak usah diragukan lagi. Kami merasa berterimakasih, saat mas Wawan ini tiada, ada banyak orang yang melayatnya, membantunya dan mengenangnya,” kata Agus melanjutkan.

Nama Cindhil semakin dikenal oleh publik tatkala dia memberikan jiwa kepada tokoh Wiji Thukul dalam film ‘Istirahatlah Kata-kata’, tayang pada 2017 lalu.

Dari sosok Wiji Thukul, yang hingga kini entah dimana keberadaannya, Cindhil bisa mendapatkan Usmar Ismail Awards sebagai Aktor Terbaik di tahun 2017.

Penghargaan demi penghargaan bisa ia dapatkan, termasuk diantaranya menjadi Pemeran Utama Pria Terbaik dari Festival Film Indonesia Tahun 2020 setelah memerankan Siman dalam film ‘Hiruk-Pikuk si Al-Kisah’.

“Ya, kami merasa bersyukur. Alhamdulillah, mas Wawan bisa diterima publik. Saya lihat berita di TV tadi, banyak rekan-rekan aktris, aktor yang mengucapkan bela sungkawa,” ungkapnya.

Dia juga berpesan kepada publik, apabila ada utang piutang Cindhil yang masih tersisa saat dia masih hidup, harap segera menghubunginya.

Baca juga: SMI Hidupkan Kembali Teater Suluh, Angkat Film Pendek Bertemakan Hak Asasi Manusia

GIGIH
Teater memang menjadi hidup Cindhil, tapi bukan berarti dia tidak pernah mencicipi hal-hal berbau politik.

Di masa kuliah, Cindhil pernah menempuh studi di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisipol) Universitas Gadjah Mada (UGM).

Namun ternyata, politik tidak menarik hatinya.

Dia kemudian pindah ke Jurusan Sastra Jawa UGM dan sempat kuliah di jurusan itu selama empat semester.

Lagi-lagi, kuliah di Sastra Jawa belum menarik hatinya untuk meraih titel sarjana.

Maka, Cindhil pun fokus pada dunia teater hingga dirinya tutup usia.

“Kegigihan mas Wawan itu memang sejak kecil, karena ibunya sudah meninggal ketika dia kelas 6 SD. Sehingga, bapak mas Wawan, pada saat itu, sudah sendiri. Dia berusaha mencari jati dirinya sejak muda,” terang Agus.

Keakraban Gunawan Maryanto dalam hal seni pun sepertinya diturunkan oleh sang ayah, yang merupakan seniman kampung, penggemar seni ketoprak.

“Bapaknya itu dulu suka teater tradisional, seperti ketoprak. Kalau di kampung ada pementasan, beliau menjadi tokohnya,” tambah Agus.

Baca juga: Teater Graha Purba Wasesa Kencana Siap Angkat Seniman Klaten

NOVEL
Sudah menelurkan banyak karya tidak menyurutkan Gunawan Maryanto untuk terus menghasilkan sesuatu untuk dikenang.

Bahkan, dia ingin menulis novel, yang sampai di pengujung usianya belum bisa kesampaian.

”Sebagai penulis, dia menulis lakon, puisi, dan cerpen. Yang belum kesampaian itu menulis novel. Dia beberapa kali ngobrol sama saya dan bilang belum menemukan waktu dan konsentrasi untuk menulis novel. Padahal, dia punya keinginan untuk menulis novel,” tutur Yudi Ahmad Tajudin, salah satu pendiri Teater Garasi yang juga ada di rumah duka.

Memang, selain terlibat teater, Gunawan juga merupakan penulis cerpen dan puisi.

Beberapa kumpulan cerpennya antara lain Bon Suwung (2005), Galigi (2007), dan Usaha Menjadi Sakti (2009).

Sementara itu, kumpulan puisinya semisal Perasaan-perasaan yang Menyusun Sendiri Petualangannya (2008), Sejumlah Perkutut buat Bapak (2010), dan Sakuntala (2018).

Pada 2010, Sejumlah Perkutut buat Bapak memperoleh penghargaan Khatulistiwa Literary Award.

”Dedikasi dan disiplin dia sebagai seniman itu sangat tinggi. Begitu dia terlibat proyek, ya, dia akan sepenuhnya di sana,” tuturnya.

Dedikasi tinggi itulah yang membuat Gunawan mampu menghasilkan karya-karya yang berkualitas.

Salah satu karyanya, Repertoar Hujan (2001) merupakan karya penting dalam sejarah teater Indonesia.

Dalam pertunjukan itu, Gunawan selaku sutradara dan penulis naskah mengolah puisi-puisi pendek yang belum sepenuhnya selesai menjadi sebuah pertunjukan.

Kini, Gunawan ‘Cindhil’ Maryanto telah berjalan menghadap yang Kuasa. Karyanya akan dikenang banyak orang karena totalitas sepanjang hayat.

Istirahatlah, Gunawan Maryanto. ( Tribunjogja.com )

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved