Tingkat Keterisian Shelter Kabupaten di Bantul di Angka 35 persen

Tingkat keterisian shelter yang dikelola Kabupaten Bantul semakin menurun. Dari lima shelter Kabupaten, tingkat keterisiannya di bawah 50 persen

Penulis: Santo Ari | Editor: Kurniatul Hidayah
Tribunjogja/ Ahmad Syarifudin
Juru Bicara Percepatan Penanganan Penularan Covid-19 Bantul dr Sri Wahyu Joko Santoso 

TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Tingkat keterisian shelter yang dikelola Kabupaten Bantul semakin menurun. Dari lima shelter Kabupaten, tingkat keterisiannya di bawah 50 persen, bahkan ada shelter yang sama sekali tidak ada pasien yang dirawat.

Juru Bicara Satgas Penanganan COVID-19 Kabupaten Bantul Sri Wahyu Joko Santoso mengungkapkan bahwa saat ini terjadi penurunan BOR di shelter yang dikarenakan pasien terkonfirmasi positif Covid-19 dengan gejala ringan mengalami penurunan.

Dari data per 2 September 2021, tidak ada pasien yang saat ini dirawat di Shelter Saemaul yang memiliki daya tampung 15 orang.

Baca juga: Ada 49.330 Ribu Penerima Bansos di Sleman yang Akan Dihapus, Ini Penjelasan Dinsos

Kemudian untuk Shelter Balai Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPSDMP) di Niten, berpenghuni 44 orang dari daya tampung 88 orang, atau terisi 50 persen. Shelter eks Patmasuri yang berdaya tampung 100 orang hanya terisi 29 penghuni atau 29 persen.

Untuk Shelter Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Desa Bangunharjo, Sewon yang berdaya tampung 76 orang, pada 2 September kemarin merawat 31 pasien atau 41 persen. Dan shelter Polairud Kretek yang memiliki daya tampung 24 hanya ada 2 penghuni atau terisi 8 persen.

"Sehingga rata-rata tingkat keterisian shelter Kabupaten di angka 35 persen dengan total penghuni 106 orang dari total daya tampung 303 orang," ujarnya.

Ia mengungkapkan bahwa kondisi ini telah mengalami penurunan dibandingkan saat terjadi lonjakan pasien Covid-19 pada bulan Juli kemarin. Ia mengatakan penurunan sudah terasa sejak bulan Agustus awal.

Meski terjadi penurunan pasien di shelter Kabupaten, ia tetap mengimbau agar seluruh masyarakat mematuhi protokol kesehatan. Bila ada warga yang terkonfirmasi positif maka diminta untuk mengikuti saran medis.

"Segera melakukan testing bila bergejala atau kontak dengan pasien positif. Bila memang bergejala, maka harus jujur pada diri sendiri dan lingkungan
. Dan ikuti vaksinasi bila ada kesempatan, dengan vaksin jenis apapun yang tersedia," ungkapnya.

Selain shelter kabupaten, penurunan jumlah pasien juga dirasakan oleh shelter di tingkat kalurahan.

Lurah Sumbermulyo Ani Widayani menyatakan pada Bulan September ini telah terjadi penurunan warga yang dirawat di shelter Kalurahan.

Baca juga: Genjot Penggunaan Kecerdasan Buatan, Asuransi InsurTech Sunday Raih Pendanaan Senilai USD 45 Juta

"Sekarang sisa 5 orang dari daya tampung 52 orang. Sebagaimana kita tahu pada Juli kemarin shelter dan rumah sakit selalu penuh. Dan baru bulan September ini menurun drastis," ungkapnya.

Ia pun berpesan kepada masyarakat untuk mau dirawat di shelter jika memiliki gejala ringan atau tanpa gejala.  

"Ketika dirawat di shelter akan tetap terpantau. Sejauh ini kan dilakukan pembagian tingkat keparahan, kalau ringan dan OTG dirawat di shelter desa. Dan yang masuk kategori sedang di shelter kabupaten. Hanya yang berat dan kritis yang dirawat di RS. Dengan mekanisme ini diharapkan tidak ada lagi penumpukan pasien di RS," ujarnya.

"Sehingga kejadian juli, di mana rumah sakit penuh, tidak akan terjadi karena karena sudah dibagi tingkat keparahannya," tandasnya. (nto)

Sumber: Tribun Jogja
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved