Pendidikan

Dosen Departemen Mata FK UI Raih Doktor di UGM

Dosen Departemen Mata, FK UI dr. Yunia Irawati, Sp.M (K) berhasil memperoleh gelar doktor di Program Doktor Ilmu Kedokteran dan Kesehatan, FKKMK UGM.

Tayang:
Penulis: Tribun Jogja | Editor: Gaya Lufityanti
istimewa
Dosen Departemen Mata, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dr. Yunia Irawati, Sp.M (K) 

Menurutnya, terdapat beberapa teknik operasi sebagai tata laksana lagoftalmus, namun teknik- teknik tersebut memberikan hasil yang bervariasi.

Tata laksana rekonstruksi kelopak mata dibutuhkan untuk memperbaiki lagoftalmus paralisis pada pasien lepra tetapi belum semua spesialis mata yang berada di fasilitas pelayanan kesehatan terlatih untuk melakukan tata laksana rekonstruksi lagoftalmus tersebut.

“Adanya keterbatasan akses dan biaya untuk berobat ke pelayanan kesehatan tersier menyebabkan pasien lepra datang saat sudah mengalami komplikasi yang mengancam penglihatan,” ungkapnya.

Yunia menyebutkan teknik rekonstruksi yang paling sering digunakan sebagai tata laksana lagoftalmus paralisis adalah upper eyelid loading menggunakan beban emas yang disebut teknik gold weight implant.

Emas 24 karat 5 merupakan material yang dipilih karena gravitasi yang spesifik dan kesesuaian dengan jaringan.

Gold weight implant memiliki tingkat kesuksesan yang tinggi untuk penatalaksanaan lagoftalmus.

Baca juga: UGM Gelar The 4th International Summer Course on Tropical Biodiversity and Sustainable Development

Teknik ini dilakukan dengan cara menjahitkan implan emas pada kelopak mata atas sehingga oleh gaya gravitasi kelopak mata dapat tertutup secara pasif saat otot levator palpebra relaksasi.

“Teknik ini dapat mengoreksi kelemahan tonus otot orbikularis kelopak mata atas, namun kekenduran kelopak mata bawah akibat paresis CN VII tidak dapat dikoreksi hanya dengan menggunakan gold weight implant,” jelasnya.

Keunggulan teknik, kata Yunia, mampu meningkatkan penutupan kelopak mata untuk melindungi kornea dan menjaga fungsi penglihatan dengan hasil kosmetik yang cukup baik.

Walaupun demikian, gold weight implant memiliki biaya yang mahal dan dapat terjadi komplikasi pasca pemasangan implan seperti inflamasi, alergi, ekstrusi, migrasi, ptosis, dan astigmatisme.

Penelitian yang ia lakukan dengan teknik modifikasi tarsorafi, yaitu mengkombinasikan levator recess, tarsorafi lateral sepanjang 10 mm, serta kantopeksi atau lateral tarsal strip (LTS) dan kantoplasti.

Teknik levator recess bertujuan untuk melemaskan otot levator dan menurunkan kelopak mata atas agar membuat kelopak mata dapat menutup secara pasif.

Baca juga: Pandemi Mengubah Industri Wisata di Yogyakarta, Ini Pendapat Pengamat Pariwisata UGM

Ia menyimpulkan teknik modifikasi tarsorafi sama efektifnya dibanding teknik gold weight implant sebagai tatalaksana operatif lagoftalmus paralisis pada penderita lepra.

“Teknik modifikasi tarsorafi sama efektifnya dibanding teknik gold weight implant dalam penurunan jarak lagoftalmus dengan dan tanpa penekanan minimal, penilaian air mata subjektif dan objektif, perbaikan epiteliopati, mengurangi pajanan kornea, dan sensibilitas kornea,” katanya.

Menurutnya teknik modifikasi tarsorafi lebih efisien dibanding teknik gold weight implant sebagai tatalaksana operatif lagoftalmus paralisis pada penderita lepra.

Bahkan teknik modifikasi tarsorafi lebih efisien dibanding teknik gold weight implant dalam hal komplikasi dan biaya operasi.

“Teknik modifikasi tarsorafi sama efisiennya dengan teknik gold weight implant dalam hal durasi lamanya operasi,”pungkasnya. ( Tribunjogja.com )

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved