Yogyakarta

Pandemi Mengubah Industri Wisata di Yogyakarta, Ini Pendapat Pengamat Pariwisata UGM

Bukan hanya wisatawan yang akan mengalami perubahan cara berwisata, akan tetapi dari pihak produsen juga dituntut untuk mendesain produk pariwisata.

Penulis: Miftahul Huda | Editor: Gaya Lufityanti
TRIBUNJOGJA.COM / Suluh Pamungkas
ilustrasi 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Pandemi Covid-19 yang belum selesai membuat sebagian pengamat dunia pariwisata memprediksikan adanya perubahan pola industri pariwisata, di tengah pandemi Covid-19.

Hal itu disampaikan oleh dosen Kajian Pariwisata Universitas Gajah Mada (UGM) Drs. Hendrie Adji Kusworo Msc Phd yang memprediksikan situasi pandemi yang berkepanjangan telah mengubah pasar industri pariwisata ke depannya.

Menurutnya bukan hanya wisatawan saja yang akan mengalami perubahan cara berwisata, akan tetapi dari pihak produsen juga dituntut untuk mendesain produk pariwisata yang sesuai dengan kondisi pandemi saat ini.

"Hari ini sedang terjadi perubahan, karena pandemi belum selesai. Bukan dalam posisi wisatawan saja, tetapi penyedia produk wisata juga harus berubah," katanya, saat dikonfirmasi Tribunjogja.com, Jumat (13/8/2021).

Baca juga: Pariwisata di DI Yogyakarta Merugi Rp 10 Triliun Selama Covid-19, GIPI DIY Minta Pemda Turun Tangan

Hendrie mengatakan, hal itu penting dilakukan lantaran pandemi Covid-19 tidak dapat ditolak lagi oleh masyarakat.

Adanya rencana kawasan Malioboro sebagai kawasan wajib vaksin, serta pemberlakuan pembatasan jam kunjung selama 2 jam oleh pemerintah diakuinya termasuk strategi yang cukup bagus.

Hanya saja, ia mengingatkan supaya pemkot Yogyakarta mencermati dampak yang akan terjadi apabila rencana tersebut resmi dijalankan.

"Apakah betul skema itu akan menambah atau mengurangi laju penularan Covid-19. Karena kita semua tahu Covid-19 saat ini lebih cepat menular," jelasnya.

Pasalnya, menurut Hendrie pengalaman selama 17 bulan yang lalu, ketika beberapa sektor ekonomi dibuka, maka akan muncul ledakan kasus positif Covid-19.

Dan ketika rencana pembukaan akses wisata di kawasan Malioboro dengan pembatasan waktu kunjung selama 2 jam itu resmi diberlakukan, dikhwatirkan akan banyak wisatawan yang mendatangi Malioboro.

Baca juga: Strategi Pemasaran Digital Jadi Kunci Industri Pariwisata Tetap Hidup di Masa Pandemi Covid-19

"Saya kira itu pasti, tapi tidak berbondong-bondong. Karena masyarakat sekarang lebih hati-hati, wisatawan sekarang  well informed atau terinformasi dengan baik tentang keamanan tempat wisata," tegas dia.

Ditanya opsi pembatasan 2 jam kunjung di Malioboro sudah seseuai dengan harapan, menurut Hendrie keputusan pemkot menerapkan hal itu perlu diapresiasi.

Akan tetapi perlu diputuskan matang-matang total kapasitas kawasan Malioboro dengan rencana wisatawan yang dibolehkan masuk.

"Harus dihitung betul-betul. Karena pintu masuk Malioboro itu kan ada yang dari sirip-sirip. Karena bisa saja orang positif Covid-19 kumpul disuatu tempat (Malioboro) ya itu sama saja," terang dia.

Hendrie berharap keputusan pemkot Yogyakarta menjadikan kawasan Malioboro sebagai kawasan wajib vaksin mampu menurunkan angka penularan Covid-19. ( Tribunjogja.com )

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved