Pendidikan

Dosen Departemen Mata FK UI Raih Doktor di UGM

Dosen Departemen Mata, FK UI dr. Yunia Irawati, Sp.M (K) berhasil memperoleh gelar doktor di Program Doktor Ilmu Kedokteran dan Kesehatan, FKKMK UGM.

Penulis: Tribun Jogja | Editor: Gaya Lufityanti
istimewa
Dosen Departemen Mata, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dr. Yunia Irawati, Sp.M (K) 

TRIBUNJOGJA.COM - Dosen Departemen Mata, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dr. Yunia Irawati, Sp.M (K) berhasil memperoleh gelar doktor di Program Doktor Ilmu Kedokteran dan Kesehatan, FKKMK UGM, usai mempertahankan penelitian disertasinya pada ujian terbuka promosi doktor, Senin (9/8/2021).

Dalam ringkasan disertasinya yang berjudul Perbandingan Efektivitas dan Efisiensi antara Teknik Modifikasi Tarsorafi dengan Teknik Gold Weight Implant sebagai Tata Laksana Operatif Lagoftalmus Paralisis pada Penderita Lepra, Yunia mengatakan lepra atau adalah penyakit infeksi kronis yang disebabkan oleh Mycobacterium leprae yang menyerang kulit, saraf tepi, mukosa saluran pernapasan atas dan mata.

Penyakit lepra dapat ditularkan melalui kontak langsung antar kulit dalam jangka waktu yang lama.

Pada tahun 2019, terdapat 17.439 kasus baru lepra di Indonesia.

Baca juga: Mahasiswa UGM Diajak Kembangkan Startup Digital

“Kondisi lepra di Indonesia relatif statis dan masih merupakan masalah kesehatan di Indonesia dan termasuk dalam satu di antara prioritas nasional untuk 3 ditanggulangi,” katanya.

Penyakit Lepra menurutnya merupakan penyakit infeksi sistemik yang memiliki risiko komplikasi okular dan dapat berakhir dengan kebutaan dengan komplikasi okular terbanyak ditemukan pada pasien lepra usia lanjut.

Diperkirakan 25-50% dari pasien lepra atau pasien yang telah sembuh memiliki gangguan mata.

Kebutaan dipengaruhi banyak faktor, seperti tipe lepra, durasi, efek pengobatan, dan tata laksana kelainan mata.

Lagoftalmus merupakan salah satu kelainan yang dapat diakibatkan oleh lepra berupa kondisi kelopak mata yang tidak dapat menutup dengan sempurna.

“Pasien lepra dengan lagoftalmus pada saat terdiagnosis umumnya memiliki lesi di sekitar wajah serta cenderung menderita disabilitas tangan dan kaki dibandingkan pasien tanpa lagoftalmus,” ungkapnya.

Ia mengutip data tahun 2013-2015 di Poliklinik Kulit dan Kelamin Rumah Sakit dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM), lagoftalmus didapatkan sekitar 2,4% dari 501 kasus baru.

Seluruh kasus lagoftalmus tersebut merupakan pasien lepra tipe Lepromatosa (MB).

Baca juga: Peneliti UGM Kembangkan Susu Fermentasi yang Bisa Turunkan Kolesterol

Ia menjelaskan semua kelainan mata pada lepra termasuk lagoftalmus memerlukan deteksi dini dan tata laksana yang tepat untuk mencegah gangguan penglihatan yang dapat berakhir pada kebutaan.

Tata laksana lagoftalmus bergantung dari durasi, jarak lagoftalmus, dan ada atau tidaknya pajanan kornea.

“Pada lagoftalmus dengan jarak > 6 mm, adanya pajanan kornea dan durasi > 6 bulan, tata laksana yang paling tepat adalah dengan melakukan operasi rekonstruksi kelopak,” paparnya.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved