Hingga Juli 2021, Pengajuan Cerai di Gunungkidul Capai 800 Gugatan, Ini Alasannya

Permohonan cerai ke Pengadilan Agama (PA) Wonosari, Gunungkidul di tahun ini masih terbilang tinggi, salah satunya terpengaruh faktor pandemi. Upaya

Penulis: Alexander Aprita | Editor: Kurniatul Hidayah
TRIBUNJOGJA/ Alexander Ermando
Ketua Pengadilan Agama Wonosari, Gunungkidul, Rogaiyah 

TRIBUNJOGJA.COM, GUNUNGKIDUL - Permohonan cerai ke Pengadilan Agama (PA) Wonosari, Gunungkidul di tahun ini masih terbilang tinggi, salah satunya terpengaruh faktor pandemi.

Upaya mediasi pun kini lebih dioptimalkan.

Kepala PA Wonosari, Rogaiyah mengungkapkan hingga Juli 2021 ini pihaknya sudah menerima lebih dari 800 permohonan cerai.

Baca juga: Kemarau Basah Sebabkan Petani Gunungkidul Hemat Biaya Irigasi

"Yang sudah putus ada 700 perkara sejak Januari lalu," katanya pada wartawan, Senin (09/08/2021).

Menurut Rogaiyah, alasan pengajuan cerai tersebut beragam. Namun di masa pandemi COVID-19 ini, alasan masalah ekonomi paling mendominasi pengajuan tersebut.

Secara spesifik, ia mencontohkan permohonan cerai diajukan karena salah satu pihak tidak memberikan nafkah secara layak. Dari sisi kelompok umur, ia menyebut paling banyak dari pasangan nikah umur 30 sampai 50 tahun.

"Tapi ada juga lanjut usia (lansia), di atas 65 tahun yang mengajukan cerai," ungkap Rogaiyah.

Demi menekan angka putus cerai, PA Wonosari kini berupaya agar pasangan yang mengajukan permohonan tidak jadi bercerai. Namun, jika kedua belah pihak sudah yakin dengan keputusannya, maka perlu ada kesepakatan lain.

Rogaiyah mengatakan kesepakatan itu berupa hak-hak anak hasil pernikahan hingga istri. Sebab secara hukum, pihak laki-laki tetap harus memberikan nafkah bagi anak hingga dewasa.

"Jadi meski cerai, hak masing-masing pihak yang terlibat tetap dapat," jelasnya.

Rogaiyah mengklaim intensitas keberhasilan mediasi dalam penanganan kasus cerai semakin membaik. Mediasi juga lebih dikedepankan sebagai upaya menekan angka perceraian di Gunungkidul.

Baca juga: Penjelasan Kemenag Soal Hari Libur Tahun Baru Islam 1443 H

Panitera Muda Hukum PA Wonosari, Titik sebelumnya menyampaikan bahwa di 2020 lalu pihaknya mendapat pengajuan sebanyak 1.718 perkara cerai. Angka ini termasuk sisa perkara di 2019.

"Pengajuan cerainya berbentuk talak hingga gugatan," ungkap Titik.

Selain masalah ekonomi, ia menyebut sejumlah faktor lain ikut memicu pengajuan permohonan cerai. Seperti kekerasan dalam rumah tangga, zinah, hingga unsur perjudian. (alx)

Sumber: Tribun Jogja
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved