Kemarau Basah Sebabkan Petani Gunungkidul Hemat Biaya Irigasi
Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Gunungkidul menyebut musim kemarau basah tahun ini berpengaruh pada produksi pertanian. Adapun pengaruh mencolok
Penulis: Alexander Aprita | Editor: Kurniatul Hidayah
TRIBUNJOGJA.COM, GUNUNGKIDUL - Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Gunungkidul menyebut musim kemarau basah tahun ini berpengaruh pada produksi pertanian.
Adapun pengaruh mencolok terjadi pada irigasi atau pengairan.
Kepala Bidang (Kabid) Tanaman Pangan DPP Gunungkidul, Raharjo Yuwono mengatakan belum ada laporan kerusakan tanaman akibat guyuran hujan di musim kemarau basah ini.
Baca juga: Info Prakiraan Cuaca BMKG DI Yogyakarta Hari Ini Senin 9 Agustus 2021
"Hujan yang ada justru membantu mengurangi biaya produksi pertanian dalam hal pengadaan air," kata Raharjo dihubungi pada Senin (09/08/2021).
Ia mengatakan saat ini untuk padi sudah memasuki musim tanam ketiga. Menurut data yang diberikan, penanaman padi di Gunungkidul saat ini seluruhnya dilakukan di lahan basah atau sawah.
Menurut Raharjo, area padi lahan basah saat ini mencapai 431 hektare, sedangkan padi lahan kering nihil. Berikutnya jagung 897 hektare, kedelai 911 hektare, kacang tanah 898 ha, dan kacang hijau 207 hektare.
"Paling luas untuk penanaman ubi kayu, mencapai 44.025 hektare," ungkapnya.
Mengacu pada informasi dari BMKG, Raharjo menyatakan kemarau kali ini mengalami anomali. Penyebabnya adalah suhu permukaan air laut yang hangat sehingga memicu terbentuknya awan hujan.
Menyikapi anomali cuaca ini, DPP Gunungkidul mengimbau para petani khususnya holtikultura untuk melakukan pencegahan dan pengendalian hama penyakit. Gangguan itu berpotensi muncul jika hujan masih terus turun.
Baca juga: Jadwal dan Lokasi Pemadaman Listrik di DI Yogyakarta Hari Ini, Senin 9 Agustus 2021
"Tapi anomali ini sifatnya hanya sementara, itu sebabnya perlu pengamatan rutin," jelas Raharjo.
Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Yogyakarta, Reni Kraningtyas memperkirakan anomali cuaca ini akan berlangsung hingga September mendatang. Sifat hujan juga disebut di atas kondisi normal.
Hal ini membuat kondisi musim kemarau DIY tahun ini cenderung lebih basah. Ia pun mengimbau seluruh pemerintah daerah hingga masyarakat untuk memperhatikan situasi hingga perkembangan cuaca ke depan.
"Terutama dampaknya pada sektor pertanian, sehingga perlu dijadikan pertimbangan kebijakan," kata Reni memberikan keterangannya. (alx)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/lahan-pertanian-jenis-sawah-basah-di-wilayah-kapanewon-karangmojo.jpg)