Pertengahan 2021, Kasus Bunuh Diri di Gunungkidul Mencapai 32 Kasus
Kasus bunuh diri (bundir) di Gunungkidul mengalami peningkatan signifikan pada paruh pertama 2021 ini. Jumlahnya bahkan sudah melampaui angka
Penulis: Alexander Aprita | Editor: Kurniatul Hidayah
TRIBUNJOGJA.COM, GUNUNGKIDUL - Kasus bunuh diri (bundir) di Gunungkidul mengalami peningkatan signifikan pada paruh pertama 2021 ini.
Jumlahnya bahkan sudah melampaui angka di 2020 dan hampir menyamai angka di 2019.
Kasubbag Humas Polres Gunungkidul Iptu Suryanto menyampaikan bahwa mendekati akhir Juli ini, jumlah bundir yang tercatat dan terlaporkan mencapai 32 kasus.
Baca juga: Banyak PKL Alun-alun Klaten Belum Mulai Berjualan Lagi, Ternyata Ini Alasannya
"Dua kejadian terakhir dilaporkan pada Kamis (29/07/2021) lalu," katanya pada Jumat (30/07/2021).
Kejadian pertama dilaporkan terjadi pada Kamis pukul 03.00 WIB dini hari di Kapanewon Tepus, dengan identitas pelaku asal Sleman.
Hampir 2 jam kemudian atau pukul 04.45 WIB, kejadian kedua dilaporkan terjadi di Rongkop.
Dua aksi ini dilakukan dengan cara gantung diri. Menurut Suryanto, baru pertama kali ini dilaporkan kasus bunuh diri dalam satu hari yang sama.
"Selama 2021 baru sekali ini dilaporkan dua kejadian sekaligus dalam sehari," ujarnya.
Angka kasus bundir di Gunungkidul kali ini pun terbilang sangat tinggi mengingat baru berjalan separuh tahun. Sebagai perbandingan, selama 2019 dilaporkan 33 kasus dan 2020 lalu ada 29 kasus.
Polres Gunungkidul sudah berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) dalam upaya menekan angka bundir. Setiap ada kasus baru, maka akan langsung dilaporkan ke Satuan Tugas (Satgas) Berani Hidup, Pemkab Gunungkidul.
"Bhabinkamtibmas di tiap kalurahan kami gerakkan untuk mencegah warga setempat melakukan aksi bundir," kata Suryanto.
Relawan Inti Mata Jiwa (IMAJI) Wage Dhaksinarga pun mengakui jika bundir tahun ini mengalami tren kenaikan. Namun pihaknya masih belum mengetahui apa penyebab kenaikan tersebut.
IMAJI sudah menyampaikan masukan ke Bupati Gunungkidul Sunaryanta untuk penanganan dan pencegahan bundir. Menurutnya, Sunaryanta merespon positif masukan tersebut.
Baca juga: Subsidi Gaji Karyawan Cair Awal Agustus 2021, Berikut Syarat hingga Cara Mengeceknya
"Itu bisa dilihat dari wacana beliau yang ingin ada program penanganan kasus bundir dan kesehatan jiwa," kata Wage.
Sayangnya, upaya tersebut masih terkendala dengan minimnya anggaran lantaran saat ini fokusnya masih di penanganan COVID-19. Luasnya wilayah Gunungkidul juga menjadi pertimbangan.
Terlepas dari kendala tersebut, Wage tetap berharap Pemkab Gunungkidul serius dalam menyikapi fenomena bundir di masyarakat. Termasuk menjalankan program pencegahan secara berkelanjutan.
"Tentunya harus menyentuh langsung ke kelompok warga yang rawan melakukan aksi tersebut," ujarnya. (alx)