Batalyon Bhara Daksa Akpol 1991 Salurkan 100 Paket Sembako dan Masker bagi Warga di Kulon Progo
Batalyon Bhara Daksa Akpol 1991 Salurkan 100 Paket Sembako dan Masker bagi Warga di Kulon Progo
Penulis: Sri Cahyani Putri | Editor: Hari Susmayanti
TRIBUNJOGJA.COM, KULON PROGO - Sebanyak 100 paket sembako dan 3.000 lembar masker diberikan secara simbolis bagi warga terdampak pandemi Covid-19 di Kalurahan Kedungsari, Kapanewon Pengasih, Kabupaten Kulon Progo, Selasa (27/7/2021).
Bansos itu diberikan oleh Alumni Akademi Kepolisian (Akpol) Batalyon Bhara Daksa angkatan 1991.
Salah satu alumni, Kombes Pol Agus Rohmat mengatakan kegiatan penyaluran bansos ini digelar serentak secara nasional di 34 provinsi di Indonesia.
Adapun pemberian bansos di wilayah hukum Polda DIY sebanyak 300 paket sembako dan 9.000 lembar masker yang dibagikan di Polres Kulon Progo, Polres Sleman dan Polres Gunung Kidul.
Di Kulon Progo, bansos diberikan di Balai Desa Kedungsari, dua warga di sekitar Kalurahan Pengasih dan tiga yayasan meliputi Panti Asuhan Boro, Yayasan Disabilitas dan Panti Asuhan Asy Syams.
Sasaran penerima bantuan dikhususkan bagi masyarakat yang belum menerima bansos dari pemerintah.
Pendataan dilakukan oleh Polres Kulon Progo dibantu Bhabinkamtibmas dan pemerintah kalurahan setempat.
Ia berharap bansos yang diberikan bermanfaat bagi masyarakat yang menerima.
"Semoga bansos ini bisa memberikan sedikit manfaat dalam meringankan beban hidup masyarakat di masa pandemi Covid-19," ucap pria yang menjabat sebagai Irwasda Polda DIY ini.
Baca juga: Pemkab Sleman Habiskan Rp 1,9 Miliar untuk Bangun Instalasi Generator Oksigen
Baca juga: Dinkes Gunungkidul Klaim Tak Alami Masalah Stok Hingga Distribusi Vaksin COVID-19
Seorang penerima bantuan Sugiyanto (45) warga Pedukuhan Karongan, Kalurahan Kedungsari, Kapanewon Pengasih merasa senang mendapatkan bantuan paket sembako tersebut.
Rencananya paket itu digunakan untuk makan sehari-hari.
Pria yang bekerja serabutan tani dan bangunan ini mengaku selama pandemi Covid-19, penghasilan yang didapatkan tidak menentu.
"Dulu bisa mendapatkan penghasilan Rp 50 ribu - Rp 80 ribu. Tapi sekarang sepi tidak ada kerjaan," ungkapnya. (Tribunjogja/Sri Cahyani Putri)