Cerita Pemilik Toko Kawasan Malioboro Tak Mampu Bertahan Saat PPKM, Jual Aset Rp50 Juta per Meter
Kondisi kawasan Malioboro di tengah penerapan PPKM Level 3-4, Kamis (22/7/2021) (TRIBUNJOGJA.COM / Yuwantoro Winduajie)
Penulis: Miftahul Huda | Editor: Iwan Al Khasni
Tawarkan Lahan dari Rp100 Juta jadi Rp50 Juta per Meter

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Para pengusaha sekaligus pemilik toko di kawasan Jalan Malioboro sudah tidak sanggup bertahan untuk menyelamatkan bisnisnya di tengah badai pandemi Covid-19.
Sebagian dari mereka menjual tempat usahanya karena selama pandemi berlangsung pemasukan pengusaha pertokoan itu berkurang drastis
Puncaknya, kondisi sulit itu dirasakan setelah kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat dan PPKM Level 4.
Pantauan di lapangan, kawasan Jalan Malioboro beberapa pekan terakhir nyaris lumpuh total karena minim aktivitas transaksi ekonomi.
Akhir pekan yang biasanya menjadi puncak keramaian di kawasan tersebut, pada Minggu (25/7/2021) sore ini keriuahan wisatawan itu seolah ditanggalkan oleh pemiliknya.
Papan penanda jalan Malioboro yang setiap saat diburu para wisatawan menjadi saksi bisu betapa pandemi Covid-19 mematikan aktivitas ekonomi di kawasan wisata belanja tersebut.
Di sudut lain, sebuah toko yang cukup besar terpampang spanduk besar bertuliskan 'Dijual Cepat Murah'.
Salah satu pemilik toko yang berhasil diwawancara Tribun Jogja, Nan Kumar (59) mengatakan, pergerakan ekonomi di kawasan Jalan Malioboro sangat parah.
Selama tiga minggu yang lalu atau tepatnya penerapan PPKM Darurat dan hingga saat ini masuk hari terakhir PPKM Level 4 menjadi krisis paling kronis selama ia berjualan di pertokoan ring satu Kota Yogyakarta itu.
"Kondisinya parahnya luar biasa. Kami pegawai banyak, pegawai kasihan, sementara mau dikasih gaji juga kami tidak ada pemasukan. Kena PPKM ini gak boleh jualan," katanya, kepada Tribun Jogja, Minggu (25/7/2021)
Nan Kumar lebih memilih pasrah dan menyerahkan semua kesulitan itu kepada Tuhan, daripada harus menyalahkan pemerintah ketika memberlakukan kebijakan yang berdampak terhadap bisnisnya.
"Apa boleh buat, ini kan di luar kendali manusia. Daripada Covid-19 merejalela," ungkapnya.
Kendati demikian, ia mengira bahwa kebijakan pembatasan kegiatan oleh pemerintah hanya berlangsung selama dua pekan, dan setelah itu keadaan akan pulih kembali.
Ternyata tak disangka, persebaran virus itu justru semakin meluas dan banyak orang yang terpapar sehingga angka kasus positif Covid-19 terus naik.