Breaking News:

Tak Mampu Bertahan di Tengah Badai Pandemi, Ini Alasan Pengusaha di Malioboro Menjual Tokonya

Para pengusaha sekaligus pemilik toko di kawasan Jalan Malioboro sudah tidak sanggup bertahan untuk menyelamatkan bisnisnya di tengah badai

Penulis: Miftahul Huda | Editor: Kurniatul Hidayah
TRIBUNJOGJA/ Miftahul Huda
Salah satu toko di Jalan Malioboro dipasangi spanduk untuk dijual, Minggu (25/7/2021) 

"Dari masa-masa krisis dulu, masa sekarang ini yang krisisnya paling parah. Seumur hidup saya baru sekarang goyah sekali. Kami bingung, tiap hari cemas terus," ujarnya.

Sebenarnya toko miliknya itu ditawarkan sejak tahun lalu saat pertengahan 2020. Namun kini, Nan Kumar benar-benar tidak sanggup lagi untuk bertahan hidup dengan menggantungkan di pertokoan kawasan Jalan Malioboro.

Ia menjelaskan, hara toko sesuai pasaran di kawasan Malioboro  per meternya mencapai Rp 100 juta.

Karena ia sudah putus asa, toko seluas 350 meter itu pun kini akan dijual dengan harga per meter Rp 50 juta.

Jika dikalkulasikan harga toko yang dijual yakni mencapai Rp 17,5 miliar.

"Harga saya banting Rp 50 juta per meter. Saya ada 350 meter luasnya. Pasarannya di Malioboro itu Rp 100 juta. Anehnya belum juga mendapat pembeli," terang dia.

Selama pandemi berlangsung, diakui olehnya bulan paling berat dilalui untuk bisnisnya terjadi saat awal pertama kali Covid-19 menyebar ke DIY.

Baca juga: Pemda DIY Akan Rekrut Tenaga Kesehatan untuk Dampingi Pasien Covid-19 yang Isolasi Mandiri

Kemudian dirasakan Nan Kumar mulai tumbuh ketika pertengahan 2020 hingga awal 2021.

Ia mulai kembali frustasi ketika awal Juli pemerintah menetapkan kebijakan PPKM Darurat hingga PPKM Level 4.

"Paling berat awal pertama pandemi sama saat ini. Dulu kan sempat tutup dua minggu, di pertangahan agak naik. Dan sekarang sehari hanya dapat Rp 2 hingga Rp 3 juta. Gak cucok," jelasnya.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved