Kabupaten Bantul

Rata-rata Ada 5 Pasien Isoman Meninggal di Rumah Setiap Hari di Bantul

Rata-rata pasien yang meninggal saat isoman adalah pasien positif covid-19 yang bergejala dan memiliki komorbid atau penyakit penyerta.  

Tayang:
Penulis: Santo Ari | Editor: Gaya Lufityanti
TRIBUNJOGJA.COM / Suluh Pamungkas
ilustrasi 

TRIBUNJOGJA.COM - Forum Pengurangan Resiko Bencana (FPRB) Kabupaten Bantul melaporkan bahwa angka kasus kematian pasien Covid-19 yang meninggal saat isolasi mandiri (isoman) di rumah cukup tinggi.

Peningkatan kematian saat isoman itu bebarengan dengan kasus peningkatan penularan Covid-19.

Ketua FPRB Kabupaten Bantul, Waljito memaparkan, rata-rata pasien yang meninggal saat isoman adalah pasien positif covid-19 yang bergejala dan memiliki komorbid atau penyakit penyerta.  

"Banyak, kalau rata-rata setiap hari itu 5 pasien meninggal saat isoman. Itu jumlah kalau dikomulatif saat lonjakan kasus ini," ujarnya Senin (12/7/2021).

Menurutnya, hal ini disebabkan karena pasien kesulitan mencari rumah sakit rujukan.

Baca juga: Angka Kesembuhan dan Kematian karena Covid-19 di Kabupaten Bantul Masuk Kategori Tinggi

Sementara saat isoman atau dirawat di shelter, tidak tersentuh oleh tenaga kesehatan dan kurannya oksigen medis.

"Jadi seharusnya mereka menuju sembuh, justru tidak di treatmen dengan baik. Karena mereka butuh kunjungan, butuh relawan kesehatan untuk mendampingi mereka yang isoman," tambahnya.

Masalah lain yang terjadi saat ada pasien isoman yang meninggal adalah kurangnya petugas rukti jenazah.

Sebagai upaya agar masyarakat dapat terlayani rukti jenazah, maka pihaknya pun telah berkoordinasi dengan Satpol PP Kabupaten Bantul.  

Ia mengungkapkan saat ini baru ada 26 desa dari 75 desa yang ada di Bantul yang memiliki relawan rukti jenazah.

"Sisanya sedang kami latih, sehingga semua desa memiliki relawan untuk rukti dan memakamkan jenazah pasien Covid-19. Nanti kalau kelurahan sudah mampu, maka mereka akan melatih relawan yang di dusun," ungkapnya.

Meningkatnya kasus kematian Covid-19 ini juga berimbas pada semakin langkanya peti jenazah.

Baca juga: Dinkes Bantul Tambah Relawan untuk Tangani Pasien Covid-19

Sebagaimana diketahui, bahwa standar prosedur memakamkan jenazah pasien covid-19, satu di antaranya adalah dengan menggunakan peti.  

"Peti, sudah mulai langka karena banyaknya pemakaman dengan prokes. Sehingga harga peti juga naik juga sekarang bisa sampai Rp 1,2 juta, sebelumnya di bawah Rp 1 juta," bebernya.

Terkait kebutuhan peti sendiri, saat ini pihaknya tidak hanya mendapatkan dari penjual peti mati saja, namun pihak relawan juga membangun koneksi dengan perajin kayu di wilayah Bantul, seperti di Dlinggo, untuk bisa membantu membuatkan peti.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved