Korea Utara Alami Krisis Pangan Parah, Begini Penjelasan Kim Jong Un

Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un akhirnya mengakui negaranya dalam kondisi krisis pangan. 

Editor: Hari Susmayanti
KCTV via Daily Mirror
Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un ketika mengunjungi korban banjir. Kim dilaporkan meniki mobil mewah jenis Lexus LX570. 

TRIBUNJOGJA.COM, PYONGYANG - Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un akhirnya mengakui negaranya dalam kondisi krisis pangan. 

Menurut dia, krisis pangan ini dipicu oleh badai yang mengamuk pada tahun lalu.

Akibatnya, saat ini bahan makanan di negara itu mulai berkurang sehingga berujung pada krisis pangan.

Dalam rapat pleno komite pusat Partai Buruh Korea, Kim mengatakan ekonomi membaik tahun ini, dengan output industri tumbuh 25 persen dari tahun sebelumnya, lapor kantor berita pemerintah KCNA.

Tetapi ada beberapa masalah yang mengikuti, tambah pemimpin tertinggi Korea Utara itu.

"Situasi pangan masyarakat sekarang semakin tegang karena sektor pertanian gagal memenuhi rencana produksi biji-bijian, akibat kerusakan dari topan tahun lalu," ungkap Kim dikutip dari AFP.

Rangkaian topan musim panas memicu banjir yang menghancurkan ribuan rumah dan menggenangi lahan pertanian.

Kim lalu menyerukan langkah-langkah untuk meminimalkan dampak bencana alam seperti itu, dengan berkata bahwa memastikan panen yang baik adalah prioritas utama.

Pengakuan itu membunyikan alarm di Korut, negara yang menderita kelaparan dahsyat pada 1990-an dengan ratusan ribu orang meninggal.

Korea Utara yang miskin dan dalam berbagai sanksi internasional atas senjata nuklir serta program rudal balistiknya, sejak lama berjuang mengatasi ketersediaan pangan, lalu kali ini mereka menderita kekurangan makanan kronis.

Pandemi virus corona dan serangkaian badai musim panas serta banjir semakin memperparah situasi Korut sejak tahun lalu.

Pertemuan itu juga membahas sifat berkepanjangan dari pandemi virus corona, lapor KCNA.

Dalam pengakuan lain tentang krisis di Korea Utara, Kim pada April mengatakan kepada warganya untuk bekerja keras, berjaga-jaga bilai situasi terburuk terjadi.

Kelaparan nasional yang diderita Korea Utara pada 1990-an menewaskan ratusan ribu orang setelah jatuhnya Uni Soviet membuat negara itu tak punya dukungan besar.

Baca juga: Kepergok Nonton Drakor Penthouse, Remaja di Korea Utara Dijatuhi Hukuman 10 Tahun Kerja Paksa

Baca juga: Gara-gara Jual Film Korea Selatan, Seorang Kepala Teknisi di Korea Utara Dieksekusi Mati

Harga Pisang Tembus Rp 640 Ribu

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved