Sejak Muncul Desember 2019 Silam, Covid-19 Sudah Tewaskan 3,8 Juta Orang di Seluruh Dunia
Covid-19 sudah menewaskan sebanyak 3,8 juta orang sejak pertama kali muncul pada akhir 2019 silam.
TRIBUNJOGJA.COM, JENEWA - Covid-19 sudah menewaskan sebanyak 3,8 juta orang sejak pertama kali muncul pada akhir 2019 silam.
Sementara orang yang terpapar sejak pertama kali muncul hingga saat ini mencapai 175,84 orang di seluruh dunia.
Amerika Serikat (AS) masih menjadi negara dengan angka kematian terbanyak, yakni 599.945 kasus dari 33,47 juta kasus paparan covid-19 hingga awal pekan ini.
Sementara Brazil mencatatkan kasus sebanyak 17,45 juta orang dengan 488.228 kematian, India sebanyak 29,57 juta kasus dengan 377.031 kematian, dan Meksiko sebanyak 2,45 juta kasus dengan 230.187 kematian.
Sementara itu di Indonesia, per Kamis (17/6/2021), bertambah 12.624 kasus baru.
Dengan demikian, total kasus positif covid-19 di Indonesia menjadi 1.95 juta sejak pertama kali diumumkan pada awal Maret 2020 lalu oleh Presiden Joko Widodo.
Sementara jumlah kematian di Indonesia per Kamis (17/6/2021), bertambah 277 orang, sehingga totalnya sebanyak 53.753 orang.
Dalam catatan resmi tersebut, pada awal pekan ini, kasus kematian baru akibat covid-19 yang terbanyak ada di India sebanyak 2.726 kasus, disusul Brazil sebanyak 827 kasus, dan Argentina sebanyak 686 kasus.
Mengutip dari panel perkembangan covid-19 di situs resmi badan kesehatan dunia (WHO) secara akumulatif sudah ada 175,84 juta kasus terpapar virus corona, di mana 3,8 juta orang tewas.
Angka tak jauh beda pun diperlihatkan penghitungan data yang diakses dari situs worldometers, yakni 177,08 juta kasus terpapar covid-19, di mana 3,82 juta kasus berujung kematian.
Baca juga: Kasus Positif dan Kematian Akibat COVID-19 di DI Yogyakarta Terbilang Tinggi
Baca juga: Awas, Angka Kematian Covid-19 di Gunungkidul Terbilang Tinggi
Seperti dilansir dari AFP, sumber di lingkungan pejabat otoritas kesehatan dunia menyatakan, WHO mengestimasi angka riil kondisi pandemi global bisa dua atau bahkan tiga kali lipat dari data yang tercatat secara resmi.
Terkait dengan kasus covid-19 yang belum melandai, pimpinan negara-negara yang tergabung dalam Kelompok 7 (G7) di Inggris pada akhir pekan lalu menyerukan penyelidikan fase kedua asal muasal virus corona di China oleh WHO secara transparan, tepat waktu, dipimpin para ahli, dan berbasis ilmu pengetahuan, seperti yang direkomendasikan laporan para ahli.
"Memperkuat transparansi dan akuntabilitas, termasuk menegaskan kembali komitmen kami untuk mengimplementasi penuh, dan meningkatkan kepatuhan terhadap, Peraturan Kesehatan Internasional 2005," demikian satu bunyi komunike G7 tersebut.
Menanggapi hal tersebut, ilmuwan sekaligus Kepala Institut Virologi Wuhan China, Shi Zhengli membantah dugaan virus corona yang menyebabkan penyakit covid-19 berasal dari kebocoran laboratoriumnya.
"Bagaimana saya bisa memberikan bukti untuk sesuatu yang tidak ada buktinya?" kata Zhengli kepada The New York Times.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/pemakaman-tetap-dilakukan-secara-prosedur-covid-19.jpg)