Breaking News:

Feature

Tingkatkan Imunitas Tubuh, Dinkes Sleman Inisiasi Program Segar Manja

Karenanya, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sleman mengajak masyarakat agar membudayakan diri hidup sehat dengan minum jamu.

TRIBUNJOGJA.COM / Ahmad Syarifudin
Kepala Dinas Kesehatan Sleman Joko Hastaryo (tengah) sedang memegang gelas untuk minum jamu di kompleks kantor dinas Setempat. 

Jamu sudah dikenal sebagai warisan budaya, dan memiliki banyak manfaat bagi kesehatan. Karenanya, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sleman mengajak masyarakat agar membudayakan diri hidup sehat dengan minum jamu.

UPAYA itu telah diawali bagi pegawai di lingkungan Dinkes, dengan program Segar Manja (sehat dan bugar dengan minuman jamu). Para pegawai di sana rutin meminum jamu bersama seminggu sekali, tepatnya pada hari Jumat.

Kasi Farmasi dan Kesehatan Makanan Minuman, Dinkes Sleman, Gunanto mengatakan, kebiasaan meminum jamu fungsinya bukan untuk mengobati penyakit, melainkan untuk memelihara dan meningkatkan daya tahan tubuh. Menurut dia, di sela tugas dan kesibukan, apalagi saat pandemi corona ini, para pegawai perlu tetap meningkatkan stamina dengan mengonsumsi jamu.

"Kegiatan ini sudah kita rutinkan 3 tahun. Seminggu sekali, tiap Jumat kita minum jamu bersama," kata dia, Jumat (11/6/2021).

Kebutuhan jamu untuk pegawai Dinkes disuplai dari perajin yang sudah ada di masyarakat. Menurut Gunanto, pihaknya sudah melakukan pendampingan dan pembinaan kepada para perajin jamu di Kabupaten Sleman mengenai cara pengolahan obat tradisional yang baik (CPOTB). Mulai dari memilah dan mengolah bahan hingga menyajikan botol kemasan serta perlengkapannya agar sesuai dengan prinsip higienitas.

Menurut Gunanto, kebiasaan ini terus dipromosikan. Meskipun saat ini sebatas untuk kalangan pegawai Dinkes, ke depannya tidak menutup kemungkinan diperluas ke organisasi perangkat daerah (OPD) lainnya.

Kepala Dinkes Sleman, Joko Hastaryo mengatakan, para sesepuh sejak zaman dahulu belum mengenal obat. Mereka hanya mengenal tanaman dan tumbuhan herbal yang diracik menjadi jamu, untuk membantu meningkatkan imunitas tubuh.

Nyatanya, para sesepuh justru memiliki daya tahan tubuh kuat dan usianya lebih panjang. Karenanya, Dinas Kesehatan berusaha melestarikan kembali jamu yang memang sudah terbukti secara ilmiah itu.

"Memang sudah tersedia obat, tapi bahan kimia. Sebetulnya ada beberapa minuman tradisional yang bisa meningkatkan daya tahan tubuh. Setidaknya, kalau meningkatkan daya tahan tubuh bisa meminimalkan (risiko) terkena penyakit, termasuk corona," kata Joko.

Sarjana, perajin jamu asal Gesikan, Kalurahan Merdikorejo, Tempel, mengatakan, ia menghabiskan 25 botol jamu ukuran satu liter dan 60 jamu dalam bentuk kemasan. Ia menyebut, warga di kampungnya sudah memproduksi jamu secara turun temurun dan kini jadi lokasi edukasi pembuatan jamu tradisional.

Tak heran, ada banyak varian jamu yang bisa dibuatnya, seperti kunir asem, beras kencur, gula asem hingga paitan. Jamu paitan diramu dari tanaman brotowali yang dicampur dengan temulawak, daun jeruk dan cengkeh.

"Ini berkhasiat untuk gatal-gatal. Meningkatkan nafsu makan. Untuk pegel linu juga bisa," kata anggota paguyuban pembuat jamu tradisional "Bima Sejahtera" itu. (Ahmad Syarifudin)

Selengkapnya baca Tribun Jogja edisi Sabtu (12 Juni 2021) halaman 04.

Penulis: Ahmad Syarifudin
Editor: Agus Wahyu
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved