Bernostalgia melalui Pameran Kembara Gembira di Museum Sonobudoyo
Museum Sonobudoyo menggelar pameran bertajuk ‘Kembara Gembira: Ayo Dolan! Ayo Cerita’ mulai 2-30 Juni 2021.
Penulis: Ardhike Indah | Editor: Gaya Lufityanti
Laporan Reporter Tribun Jogja, Ardhike Indah
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Menengok ke masa lalu, ketika diri sendiri masih menjadi anak-anak mungkin memberikan pengalaman menyenangkan.
Banyak permainan tradisional yang kini sudah tidak lagi dimainkan karena cepatnya perkembangan teknologi.
Generasi masa kini cenderung memilih untuk mengutak-atik gawai pintar dengan kecanggihannya daripada menyentuh barang-barang lawas yang terkesan kuno.
Dari situ, Museum Sonobudoyo menggelar pameran bertajuk ‘Kembara Gembira: Ayo Dolan! Ayo Cerita’ yang diselenggarakan di Gedung Pameran Temporer Museum Sonobudoyo, mulai 2-30 Juni 2021 pukul 09.00-21.00.
Pameran yang merupakan rangkaian dari kegiatan temporer Abhinaya Karya ini gratis, sehingga pengunjung tidak perlu membayar untuk melihat nostalgia apa saja yang disajikan di gelaran tersebut.
Baca juga: Pameran Poster Berani Jujur, Pecat! Ajak Publik Jaga Sikap Antikorupsi dan Lawan Pelemahan KPK
“Salah satu tujuan pameran ini, bagi orang dewasa yang mengenang masa lalu. Sementara, bagi anak-anak, mereka bisa melihat mainan zaman dulu. Kalau zaman sekarang kan sudah beda ya,” ungkap Kepala Museum Sonobudoyo, Setiawan Sahli di sela-sela pameran, Rabu (2/6/2021).
Saat memasuki gedung, pengunjung akan dihadapkan pada labirin-labirin yang memungkinkan untuk fokus menikmati karya yang sedang dipamerkan.
Bisa dipastikan, pengunjung dewasa akan mengenang masa lalu bermain mainan tradisional ataupun mengenakan pakaian bergaya zaman dulu.
Bagi pengunjung anak-anak, mereka bakal memahami ada perbedaan gaya hidup di masa kini dan zaman dulu.
Karya tersebut tidak jauh dari apa yang pernah dilewati daur hidup manusia, khususnya mereka yang tinggal di DI Yogyakarta.
Sebagai contoh, di salah satu sudut, pengunjung akan diajak melihat kembali barang-barang yang digunakan saat melakukan prosesi adat sewaktu masih hamil maupun melahirkan.
Seperti kurungan ayam, kendil serta kain-kain batik yang memiliki motif berbeda, melambangan harapan baik untuk hidup.
Dalam budaya, masyarakat Jawa menempatkan kelahiran sebagai fase penting dalam kehidupan manusia.
Tidak heran, ketika sang jabang bayi masih dalam kandungan, berbagai upacara dan tradisi dilakukan agar kelak bayi bisa lahir selamat.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/bernostalgia-melalui-pameran-kembara-gembira-di-museum-sonobudoyo.jpg)