Breaking News:

Citizen Journalism

Menggali Ilmu Mendongeng dari Para Pakarnya

Setelah workshop selesai, peserta diharapkan segera menyusun rencana yang matang agar semua dapat menghasilkan karya.

IST
Seniman Broto Wijayanto saat mendampingi praktik dongeng dalam Workhsop Cipta Dongeng, di auditorium 2 Museum Sonobudoyo Yogyakarta, 27-28 Mei 2021. 

TRIBUNJOGJA.COM - Semua mata tertuju di tengah ruangan, saat Guru SMAN 8 Yogyakarta, Slamet Nugroho bercerita tentang Tikus yang Cerdik, disusul Guru MTsN 3 Bantul Sutanto yang bercerita tentang pencuri bernama Degsura yang harus bertekuk lutut dihadapan Mbah Jaya.

Keduanya tampil spontan mengawali praktik mendongeng, di bawah bimbingan narasumber seniman teater Broto Wijayanto,S.Sn, Jumat (28/5/2021) di Auditorium 2 Museum Sonobudoyo, Gondomanan, Kota Yogyakarta.

Praktik mendongeng merupakan materi terakhir kegiatan Workhsop Cipta Dongeng yang diselenggarakan Dinas Kebudayaan DIY selama dua hari (27-28/5/2021) diikuti 30 peserta yang sebagian besar berprofesi pendidik. Guru dari Sleman 10 orang, Kota Yogyakarta  (5), Gunungkidul (4), Bantul  (4), Kulon Progo (3), dan 4 peserta bukan guru 4.

Hari pertama, Kamis (27/5/2021) acara dibuka Kepala Paniradya Keistimewaan DIY , Aris Eko Nugroho,SP M.SI, dilanjutkan materi pembinaan dan pengembangan Sastra Lisan di Masyarakat oleh Kabid Pemeliharaan dan Pengembangan Sejarah, Bahasa, Sastra dan Permuseuman Disbud DIY, Rully Andriadi, S,S.  Dosen Sastra Jawa Fakultas Ilmu Budaya UGM Dr.Sri Ratna Saktimulya, M.Hum mengupas Dongeng Jawa Klasik dan manuskrip Dongeng Yogyakarta.

Di hari kedua, Jumat (28/5/2021) menghadirkan pegiat sastra dan aksara Jawa sekaligus pimpinan Lembaga Kajian islam dan Sosial (LKIS), Akhmad Fikri, S.Hum yang secara gamblang menjelaskan Etnografi Sastra Lisan di DIY dan Penulisan Mendongeng. Di puncak acara, Broto Wijayanto dengan pengalamannya di dunia akting mampu memotivasi semua peserta tampil dengan penuh percaya diri.

“Untuk bisa menguasai panggung, bisa diawali latihan berjalan, memandang mata orang lain. Yang penting kuasai dirimu agar bisa menguasai penonton, barulah bisa mendongen dengan nyaman. Mendongeng itu seperti menghipnotis,” ucap Broto.

Dalam sesi penutup, Rully Andriadi mengingatkan, setelah workshop selesai, peserta diharapkan segera menyusun rencana yang matang agar semua dapat menghasilkan karya sampai dengan 30 Juni 2021. Tentunya dengan mematuhi ketentuan, yakni cerita tentang asal-usul nama tempat di wilayah DIY, asal usul terjadinya sesuatu di wilayah DIY, segala sesuatu yang memiliki cerita lisan di wilayah DIY.

“Saya berharap hasil workshop dapat diimplementasikan dalam dongeng yang dibuat, sehingga dapat menghasilkan karya yang berkualitas. Bisa dibukukan dan dijadikan acuan mendongeng khususnya untuk anak maupun masyarakat umum,” jelas Rully.

Salah satu peserta dari Kota Yogyakarta, Arpeni Rahmawati, senang mengikuti kegiatan tersebut, karena menambah wawasannya selaku guru bahasa Jawa. Sedangkan peserta dari Sleman Deti Prasetyaningrum, mengaku banyak mendapat hal-hal baru terutama materi yang terkait bahasa Jawa, sedangkan dirinya adalah guru bahasa Inggris. (*)

Drs. Sutanto

Guru MTsN 3 Bantul 

Editor: Hendy Kurniawan
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved