Sebanyak 52 Warga Ngaglik Positif Covid-19, Pemkab Sleman Berencana Dirikan Dapur Umum

Pemerintah Kabupaten Sleman berencana membangun dapur umum di wilayah Padukuhan Ngaglik, Kalurahan Caturharjo, Sleman setelah 52 warga di RT 1 dan 2

Penulis: Ahmad Syarifudin | Editor: Kurniatul Hidayah
TRIBUNJOGJA/ Ahmad Syarifudin
Pemerintah Kabupaten Sleman bersama dengan relawan dan warga membahas rencana pendirian dapur umum di Padukuhan Ngaglik, Sleman saat menggelar rapat koordinasi di Balai Kalurahan Caturharjo, Sleman, Rabu (26/5/2021) 

Dua di antaranya meninggal dunia. Saat ini, 38 pasien tanpa gejala menjalani isolasi di Asrama Haji, 3 orang dirawat di rumah sakit, dan sisanya isolasi mandiri.

Sementara itu, Kepala Dinas Sosial Kabupaten Sleman, Eko Suhargono menyampaikan adanya rencana pendirian dapur umum dari Pemerintah Kabupaten bukan berarti aktivitas warga dibatasi total.

Warga yang negatif masih bisa beraktivitas. Namun dianjurkan agar tidak melakukan kontak langsung kecuali urgent atau penting. Bagi warga yang bekerja dan membawa surat bebas Covid-19 tetap diperbolehkan bekerja.

Bahkan, Pemerintah Kabupaten akan memfasilitasi tes swab apabila dibutuhkan secara berkala. 

"Yang tidak urgen sama sekali, sementara tidak boleh kontak langsung. Itu yang tidak urgent. Tapi bagi warga yang bekerja, dengan membawa surat bebas Covid kan boleh. Asalkan dengan prokes," tekan dia. 

Dapur umum nantinya akan difasilitasi oleh Pemerintah Kabupaten Sleman melalui Dinas Sosial. Lagipula, pembuatan dapur umum, kata dia, bukan hal baru. Sebelumnya Dinsos juga sudah beberapa kali mendirikan fasilitas tersebut, saat menangani klaster di Wukirharjo dan Blekik. 

Baca juga: Usai Lebaran, Sekda DIY Sebut Kasus Covid-19 di DI Yogyakarta Secara Umum Terpantau Landai

Sumber Penularan  

Kepala Dinas Kesehatan Sleman, Joko Hastaryo menegaskan, pasien terkonfirmasi positif di padukuhan Ngaglik hanya berasal dari RT 1 dan 2.

Di mana temuan kasus terbanyak ada di RT 2 dan telah ditetapkan zona merah (resiko penularan tinggi). Lalu, RT 1 zona oranye. Sedangkan RT 3 dan 4 dipastikan masih zona hijau. 

Ia mengungkapkan, hingga kini pihaknya belum mengetahui sumber awal penularan di padukuhan Ngaglik. Karena itu, jawatannya langsung melakukan tracing masif dan testing secara massal. 

"Tujuannya, untuk memastikan, apakah masih ada penularan atau tidak," ujar dia. 

Lanjutnya, Joko memastikan, klaster yang terjadi di Ngaglik bukan efek lebaran. Karena penularan nyatanya sudah terjadi sebelum lebaran.

Bahkan Pemerintah Kalurahan dan Kapanewon sudah melakukan antisipasi dan tracing sejak sebelum lebaran. 

"(klaster di Ngaglik) Ini bukan efek setelah lebaran. Karena kasus awal diketahui sebelum itu. Hanya saja problemnya, tracing awal sebelum lebaran tapi laboratorium-nya pada tutup sehingga sampel baru bisa diperiksa setelah lebaran," jelas dia. (rif)

Sumber: Tribun Jogja
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved