Pedagang Pasar Asal Ngaglik Menangis ke Pak Lurah, Disuruh Pulang, Kampungnya Jadi Klaster Covid-19

"Ada pedagang pasar. Kemarin datang sampai nangis-nangis. Sudah bawa dagangan ke pasar dan sampai sana (pasar) disuruh pulang. Ndak boleh jualan.

Penulis: Ahmad Syarifudin | Editor: Kurniatul Hidayah
who.int
Berita Update Corona di Daerah Istimewa Yogyakarta 

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Kasus penularan Covid-19 di padukuhan Ngaglik, Caturharjo, Sleman viral di media sosial.

Penyebabnya, karena puluhan warga yang dinyatakan positif dijemput dan dibawa ke Fasilitas Kesehatan Darurat Covid-19 (FKDC) Asrama Haji, menggunakan rombongan ambulans, pada Selasa (25/5/2021) kemarin. 

Viralnya kejadian itu ternyata berdampak luas. Lurah Caturharjo, Agus Sutanto mengungkapkan, narasi penjemputan menggunakan rombongan ambulans yang viral di media sosial, dinilai tidak sesuai dengan kejadian sesungguhnya.

Hal itu, membuat seluruh warga padukuhan Ngaglik menjadi tidak nyaman. 

Baca juga: Lakukan Penyisiran di Sepanjang Malioboro, Pemkot Yogyakarta Yakini Tidak Ada Pedagang yang Nuthuk

Sebab, akibat viralnya kejadian itu, dirinya menerima laporan, sudah ada puluhan warga yang mengadu disuruh pulang dari tempatnya bekerja, hanya karena ber-KTP Ngaglik, Caturharjo.

Padahal warga tersebut sudah tes dan dinyatakan negatif Covid-19.

Warga yang dipulangkan dari tempatnya bekerja itu, kebanyakan adalah karyawan perusahaan.

Bahkan, ada juga pedagang pasar yang tidak bisa berjualan. 

"Ada pedagang pasar. Kemarin datang sampai nangis-nangis. Sudah bawa dagangan ke pasar dan sampai sana (pasar) disuruh pulang. Ndak boleh jualan. Padahal dia sudah swab negatif," kata dia, Rabu (26/6/2021) 

Klaster di padukuhan Ngaglik mulai terdeteksi pada tanggal 9 Mei 2021.

Awalnya, hanya satu orang yang terpapar kemudian menyebar dan meluas.

Sepekan sebelum lebaran, hanya ada 4 warga yang diketahui terkonfirmasi positif.

Namun setelah dilakukan tracing dan testing massal setelah lebaran, jumlahnya bertambah. Hingga kini total menjadi 52 orang dan 2 diantaranya meninggal dunia. 

Panewu Sleman, Mustadi meluruskan warga Ngaglik yang dinyatakan positif Covid-19 bukan satu padukuhan. Melainkan hanya ada di dua RT saja.

Rinciannya, RT 1 ada 9 kasus, dan RT 2 sebanyak 43 kasus. Itu pun semuanya sudah menjalani Isolasi. 

Baca juga: Ketua Paguyuban Lesehan Malioboro Minta Bukti Pembelian Pecel Lele yang Viral

Halaman
12
Sumber: Tribun Jogja
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved