Breaking News:

Sumber Air Bersih Terancam, Warga Padukuhan Ngablak Bantul Terus Tolak Perluasan TPST Piyungan

Untuk kesekian kalinya, warga Padukuhan Ngablak, Kapanewon Piyungan, Kabupaten Bantul kembali mendatangi kantor Dewan Perwakilan Rakyat

Penulis: Miftahul Huda | Editor: Kurniatul Hidayah
TRIBUNJOGJA/ Miftahul Huda
Ketua Komunitas Pemulung TPST Piyungan Maryono 

"Kalau sumber air tidak ada lah masyarakat mau minum apa? Masyarakat dulu sudah digusur pas tahun 1996 waktu awal pembangunan, lah sekarang kok mau ditambah lagi," tegas dia.

Dari hasil sosialisasi yang pernah dilakukan, Maryanto menyebut uang ganti untung per meternya dari masing-masing lahan di sana berkisar Rp 300 hingga Rp 400 ribu.

"Permeternya antara Rp 300 hingga Rp 400 ribu. Itu ada yang sudah tanda tangan tapi belum terima uangnya. Kalau luasan lahannya saya kurang jelas," terang dia.

Sebagai informasi saat ini di TPST Piyungan telah ada 470 anggota komunitas pemulung yang setiap hari beraktivitas di sana.

Secara garis besar, Maryono berharap ada jalan keluar atas persoalan sampah yang tak kunjung usai di TPST Piyungan.

Baca juga: Begini Cara Melihat Gerhana Bulan Total yang Akan Terjadi Pada 26 Mei 2021

Menanggapi hal itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) DIY Kuncoro Cahyo Aji mengatakan, adanya forum dialog secara intens tersebut diharapkan muncul sebuah solusi permasalahan sampah di Yogyakarta.

Menurutnya upaya perluasan TPST Piyungan harus dilakukan, lantaran prediksinya kekuatan daya tampung sampah di dermaga hanya bisa bertahan hingga Maret 2022.

"Untuk sementara ini kami memang mengupayakan perluasan TPST. Karena prediksi kami TPST Piyungan hanya bisa bertahan dan akan selesai sampai Maret 2022. Sehingga upaya perluasan maupun  pemilihan teknologi pengolahan sangat dimungkinkan," tuturnya.

Terkait penolakan perluasan dermaga TPST Piyungan dari warga Padukuhan Ngablak, Kuncoro menyatakan bahwa pihaknya hanya perlu berdialog kembali dengan warga masyarakat yang keberatan.

Kuncoro juga mengatakan bahwa butuh kesadaran dari masyarakat sekitar terkait pemahaman sampah.

"Mungkin kami perlu berdialog lagi. Sebetulnya kalau dizinkan perluasan di belakang rumah toh ke depannya juga akan bermasalah. Ini yang perlu kami sadarkan mengenai sampah," ungkapnya. (Hda)

Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved