Mutiara Ramadan Kerja Sama LDNU DIY
Inspirasi Kebajikan Spiritual
Ramadan telah banyak menginspirasi umat muslim dan umat lainnya untuk berbuat kebajikan.
Oleh: Dr Ibi Syatibi MSi, Ketua Komisi Aset PWNU DIY, Dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
TRIBUNJOGJA.COM - Ramadan telah banyak menginspirasi umat muslim dan umat lainnya untuk berbuat kebajikan. Spiritualitasnya dapat kita simak pada pesan-pesan moral Ramadan di dalamnya.
Pertama, serangkaian peribadatan selama bulan Ramadan menjadi madrasah keimanan kepada Allah SWT.
Kehadirannya telah banyak memfasilitasi kita untuk semakin banyak beribadah kepada Allah dan mendekatkan diri kepada-Nya seperti puasa, salat wajib lima waktu, zakat, salat sunah rawatib, salat tarawih, salat witir, tadarus Alquran, dan salat-salat lainnya yang mengiringi ibadah i’tikaf di masjid atau di rumah.
Tentu saja, semua peribadatan yang dilakukan selama Ramadan ini merupakan madrasah keimanan, sekaligus menjadi wahana untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Untuk kali kedua Ramadan di tengah situasi dan kondisi pandemi Covid-19 ini menjadi madrasah keimanan tentang sikap mengambil jalan tengah atau moderat. Sebagai umat beriman, kita selayaknya mengambil sikap seimbang antara khauf (takut, panik) di satu sisi, dan pada saat yang sama kita juga mengambil sikap raja (penuh harap akan pertolongan dan rahmat Allah SWT.)
Kepanikan dan ketakutan kita dalam suasana Covid-19 ini harus diiringi dengan praktik untuk tidak melanggar hal-hal yang menjadi ketentuan dalam protokol kesehatan. Tidak mudik, membatasi mobilitas sosial dan tindakan preventif lainnya adalah bentuk dan langkah positif langsung dari khauf (ketakutan dan kepanikan) kita.
Kedua, kemuliaan Ramadan mampu meletakkan tangga-tangga menuju keimanan paripurna. Jika direnungkan secara mendalam, objek dan muara etis puasa sesungguhnya bertumpu pada orientasi yang sangat humanistik-horizontal. Ibadah puasa memiliki nilai kebenaran universal. Karena dengan berpuasa, sesungguhnya seseorang tengah berupaya membebaskan diri dari segala jeratan gravitasi aktivitas hidup duniawi yang telah memenjarakan dan menjauhkan dari pusat dan penguasa hidup yang sebenarnya.
Melalui puasa, kita diajak untuk melakukan perlawanan dengan memutar bangunan rutinitas hidup dan kemudian kembali ke pusat gravitasi dan pusat orientasi hidup yang paling otentik.
Seseorang yang melakukan aktivitas religi ini, sadar atau tidak, sesungguhnya tengah dituntun untuk melangkah pada jalan keimanan yang hakiki. Jika semangat relegiusitasnya semakin bertambah, maka ia telah meraih makna keimanan yang paripurna.
Makna moralnya adalah mengajak kita untuk introspeksi secara lahir dan batin dengan memutuskan diri dari hegemoni dunia yang selalu memasang jebakan atas perjalanan hidup kita menuju Tuhan.
Dengan kehadiran bulan penuh berkah di tengah pandemi Covid-19 ini, kita dituntun untuk melihat dan menata kembali landasan, pedoman dan tujuan hidup.
Secara teologis-vertikal, aktivitas ibadah puasa juga dapat mendorong seseorang untuk menghayati kehadiran Tuhan. Betapa seseorang merasakan kedekatan Tuhan, sehingga dimanapun dan kapanpun seseorang berada sanggup menahan diri untuk tidak makan-minum, meski dalam keadaan lapar dan haus.
Ketiga, Ramadan dapat menginspirasi kebajikan universal. Dalam tubuh orang yang berpuasa, terdapat dua kekuatan yang tarik-menarik antara kekuatan fisik dan kekuatan mental-spiritual.
Masing-masing membutuhkan konsumsi yang berlainan. Jika fisik membutuhkan makan dan minum, maka mental-spiritual membutuhkan nilai berupa karakter dan kepribadian.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/ibi-mutiara.jpg)